Di bulan Agustus 2024, saya kedatangan seekor anak kucing berusia 3 bulan — sebut saja namanya Bubu — untuk keperluan vaksinasi pertamanya. Kucing berambut panjang tersebut sehat dan aktif; tidak ada masalah yang membuatnya tidak boleh divaksin. Namun, saya baru terkejut ketika pemiliknya menanyakan jenis kelamin kucing yang baru ia adopsi tersebut. Bentuk kelamin Bubu tidak seperti kucing jantan atau betina yang biasa saya lihat. Alat kelamin — yang entah penis atau vulvovagina, saat itu saya tidak bisa menerka dengan pasti — tersebut menempel di dinding bawah anus. Organ tersebut menyembul seperti penis, tetapi lubangnya seperti sebuah garis di bawahnya, mirip seperti vagina. Saya pernah melihatnya sekali di foto, tapi tidak begitu saya hiraukan karena bukan pasien saya. Saya bilang ke pemilik Bubu bahwa saya belum bisa mengatakan secara pasti, tetapi ada kemungkinan kucingnya berkelamin ganda. Sebab kucingnya pun masih sangat kecil, saya sarankan kita tunggu beberapa bulan, dan mana tahu testisnya akan turun, kalau Bubu punya testis.

Alat kelamin Bubu saat berusia 3 bulan (sumber dok. pribadi)

Setelah bertemu Bubu, saya sempat mencari beberapa literatur terkait kelainan seksual kucing, tapi saya tidak berhasil menemukan gambar alat kelamin yang seperti punya Bubu. Kesulitan pencarian ini juga didasari kesulitan saya mendeskripsikan bentuk kelamin Bubu dalam mesin pencari. Kelamaan, saya tidak lanjut mencari soal ini.

Bulan Oktober, Bubu datang lagi ke klinik. Dia sehat, hanya kali ini dia datang untuk prosedur sterilisasi. Kucing yang jenis kelaminnya tidak jelas ini datang untuk dimandulkan. Dalam 2 bulan, Bubu bertambah besar dan lucu, tetapi bentuk alat kelaminnya tidak banyak berubah. Namun, karena lebih besar, alat kelamin uniknya tersebut jadi lebih mudah diinspeksi. Baru saya tahu bahwa itu sesungguhnya penis, lengkap dengan duri selayaknya yang dimiliki kucing jantan yang masih punya testis. Beruntungnya, pemilik setuju untuk melakukan apa yang diperlukan, baik itu pemeriksaan ultrasonografi, ataupun laparotomi eksplorasi: prosedur pembedahan abdomen untuk memeriksa dan mencari organ, yang dalam cerita ini, ovarium dan rahim, jika ada. Sayangnya, klinik tidak punya alat pemeriksaan yang lebih canggih untuk menentukan jenis kelamin Bubu yang sesungguhnya, seperti pemeriksaan kadar hormon (progesteron dan hormon anti-Mullerian) ataupun pemeriksaan karyotipe kromosom.

Hari pemandulan tiba. Setelah area perut dan sekitar anusnya dicukur, baru tampak bahwa Bubu sejatinya punya dua testis sebagaimana di header post ini. Hanya saja, ukurannya memang kecil (kemungkinan karena usianya juga masih muda) dan tidak ada skrotum atau kantung penggantung testis. Testis tersebut menyembul saja di kiri dan kanan alat kelamin ambigunya. Beruntungnya, kedua testis tersebut berhasil turun dari perut, karena ada beberapa kucing yang mengidap kelainan perkembangan seksual kriptorkidisme — kondisi ketika testisnya tertahan di perut atau area selangkangan dan tidak turun di skrotum. Jika seekor kucing kriptorkid mau disteril, testis tersembunyi tersebut harus dicari di dalam perut. Bukan perkara mudah sebab testis tersebut biasanya berukuran lebih kecil dari testis normal.

Prosedur kastrasi tidak jauh berbeda dari kastrasi biasa, tetapi ketika dilakukan eksplorasi abdomen, tidak ada tanda-tanda alat kelamin betina, baik ovarium maupun uterus. Akhirnya, perut Bubu dijahit kembali tanpa mengambil organ apa-apa.

Setelahnya, tentu saya masih penasaran. Baru saya tahu, kalau ternyata selama ini saya mencari hal yang salah. Saya mengira kucing seperti Bubu berkelamin ganda atau hermafrodit. Setelah menelusuri beberapa diskusi di VIN, saya baru tahu kucing yang betul-betul hermafrodit tidak akan punya ovarium dan testis secara terpisah. Mereka punyanya ovatestis, yang seringnya terletak di lokasi ovarium.

Dari VIN juga, saya menemukan istilah yang tepat untuk kondisi Bubu: hipospadia. Saya bukan orang pertama yang salah mengira kucing hipospadia sebagai pemilik kelamin ganda. Ada beberapa orang yang menemukan hal yang serupa dan melakukan hal yang sama: eksplorasi abdomen untuk mencari uterus (dan tidak menemukannya, karena memang kucingnya jantan). Hipospadia adalah kelainan penis. Lubang urethra, tempat keluar urin, yang seharusnya terletak di ujung penis malah terletak di bawah penis. Lubang yang saya kira sebagai vagina itu ternyata lubang saluran kencing. Hipospadia ternyata lumayan umum di manusia, tetapi sangat jarang di kucing. Laporannya tidak banyak, sehingga prevalensinya juga tidak diketahui. Saya juga tidak tahu kenapa posisi penisnya juga berbeda dari posisi biasa, sampai mepet dengan anus, karena kalau di manusia, lokasi penis anak dengan hipospadia tetap normal. Dari segelintir laporan yang ada mengenai hipospadia pada kucing, ada beberapa yang posisi penisnya mepet dengan anus seperti Bubu, tetapi banyak juga yang posisi lebih normal.

Testis dan penis kucing normal (nokchu/Shutterstock)

Dalam satu laporan kasus di Oman (King & Johnson 2000), ada kucing dengan hipospadia yang mengalami infeksi saluran kemih. Kelainan anatomisnya diduga menjadi faktor risiko yang berperan besar, karena lubang urethra, yang berhubungan langsung dengan kantung kemih, rawan tercemar oleh feses, sehingga bakteri dari feses mudah menginfeksi. Kucing tersebut akhirnya dioperasi perineal urethrostomy (PU) untuk memisahkan saluran kemih dan anus. Penisnya dipotong dan dibuat saluran baru untuk buang air kecil di bawah anus. Prosedur PU sebenarnya cukup umum, tapi lebih sering dilakukan pada kucing yang mengalami sumbatan saluran kemih berkali-kali. Kadang kucing yang menjalani PU disebut “dibetinakan”.

Ada laporan lain terbaru dari Spanyol (Murcia Bara et al. 2024) mengenai kucing hipospadia dengan FLUTD obstruktif. Tipe hipospadianya sedikit berbeda, dan sepertinya lokasi penis kucing tersebut tidak bersinggungan dengan anus. Lubang urethranya berada di bawah ujung penis, alih-alih berbentuk lubang besar panjang seperti Bubu dan kucing yang di Oman. Alhasil, lubang yang lebih kecil membuat kucing lebih mudah tersumbat kencingnya dan susah dikateter. Kucing tersebut ditangani dengan preputial urethrostomy, prosedur yang berbeda dan lebih baru.

Tentu, satu-dua laporan ini belum cukup untuk mendirikan fakta bahwa hipospadia memperbesar risiko terkena masalah saluran kemih atau FLUTD, tetapi prinsipnya masuk akal. Mengingat jumlah kasus yang sedikit, sepertinya akan perlu waktu yang lama sebelum ada studi epidemiologisnya.

Kucing dalam laporan kasus King & Johnson (2000) sebelum operasi PU.
Setelah operasi PU. Panah atas menunjuk pada anus. Panah bawah menunjuk pada lubang kencing baru.

Dalam bahasan lain, klinik di tempat saya bertemu Bubu pernah mendapat pasien dengan kondisi serupa. Bedanya, kucing tersebut juga mengalami atresia ani; dia lahir tanpa lubang anus. Setelah dioperasi untuk membuat lubang anus, kucing tersebut dapat buang air besar, tapi fesesnya sering tidak normal dan susah dikontrol karena memang tidak ada sfinkter yang menahan. Alhasil, area anusnya seringkali kotor dan luka. Namun, sejauh yang saya tahu dalam riwayat medisnya, kucing tersebut belum pernah kena masalah kencing.

Referensi

King GJ, Johnson EH. Hypospadias in a Himalayan cat. J Small Anim Pract. 2000;41(11):508-510. doi:10.1111/j.1748-5827.2000.tb03973.x

Murcia-Barba A, Serra-Aguado CI, Serrano-Crehuet T, Fernández-Salesa N. Preputial urethrostomy in a cat with suspected glandular hypospadias: case report and literature review. J Feline Med Surg Open Reports. 2024;10(2). doi:10.1177/20551169241272195

Leave a comment