Bulan Juli kemarin, jurnal Viruses menerbitkan sebuah artikel berjudul “Short Treatment of 42 Days with Oral GS-441524 Results in Equal Efficacy as the Recommended 84-Day Treatment in Cats Suffering from Feline Infectious Peritonitis with Effusion—A Prospective Randomized Controlled Study”. Sederhananya, penelitian menemukan bahwa pengobatan FIP yang selama ini harus dilakukan selama 84 hari bisa dilakukan selama 42 hari saja dengan hasil yang sama, setidaknya dalam satu skenario. Sebelum ini, pengobatan FIP selalu dilakukan selama 84 hari karena penelitian sebelumnya selalu menggunakan durasi 84 hari. Kalau pengobatan FIP bisa dipersingkat, tentu ini kabar yang sangat baik, mengingat betapa mahal, lama, dan menyusahkannya pengobatan FIP, baik bagi kucing maupun pemiliknya (walau masih lebih baik dari alternatif sebelumnya, yaitu tidak ada obat sama sekali untuk FIP). Namun, iblis bersembunyi dalam detail, termasuk untuk penelitian ini. Apakah penelitian ini bisa dijadikan dasar untuk mengganti durasi pengobatan FIP sekarang menjadi 42 hari saja? Kita perlu melihat desain dan hasil penelitian dengan lebih dekat sebelum menyimpulkan.

Secara ringkas, penelitian ini adalah penelitian eksperimental randomized controlled trial (RCT). Terdapat 40 ekor kucing dengan FIP yang dibagi ke dalam 2 kelompok secara acak: kelompok pengobatan 84 hari dan 42 hari. Mereka baru tahu masuk ke kelompok mana pada hari ketujuh pengobatan. Semua kucing dimonitor sampai hari ke-168 untuk melihat ada tidaknya kejadian kambuh FIP.

Kucing seperti apa yang dilibatkan dalam penelitian ini? Kucing dengan FIP, tapi secara spesifik yang bergejala efusi atau terdapat penumpukan cairan di rongga tubuh, baik di dada atau perut. Sederhananya, kucing dengan “FIP basah”. Namun, kucing dengan gejala FIP lain (saraf, mata, atau kering nonspesifik) tetap boleh ikut serta asalkan memiliki efusi. Selain itu, kucing harus memiliki berat minimum 2 kg dan bebas dari virus FIV/FeLV (dikonfirmasi dengan SNAP test) atau penyakit lain yang memberatkan.

Diagnosis FIP sering dipenuhi ketidakpastian. Dalam penelitian ini, kucing dinyatakan FIP jika memenuhi 2 kriteria, yaitu: terdapat RNA feline coronavirus (FCoV) dalam cairan efusi berdasarkan RT-PCR dan perubahan patologi klinis yang sejalan dengan FIP. Perubahan yang dimaksud mencakup anemia nonregeneratif, perubahan ukuran sel darah merah, penurunan jumlah limfosit dan trombosit, kenaikan jumlah neutrofil, kenaikan konsentrasi globulin dan penurunan konsentrasi albumin dengan rasio albumin/globulin yang rendah, dan kenaikan serum amiloid A (SAA) dan alpha-1-acid-glycoprotein (AGP). Kedua parameter terakhir mungkin tidak terlalu familiar karena tidak terlalu umum digunakan di Indonesia.

Dari 40 kucing yang dilibatkan, 20 memiliki cairan di rongga perut, 5 di rongga dada, dan 10 di keduanya. Kucing dengan “FIP basah” seperti ini memerlukan dosis obat yang lebih rendah dibandingkan tipe FIP lain, dan karenanya bisa diasumsikan lebih mudah untuk diobati. Hal ini mungkin memengaruhi kesimpulan yang bisa kita ambil, terutama kalau mau mengaplikasikan temuan 42 hari ini ke FIP tipe kering, apa lagi yang menjangkiti saraf dan mata. FIP saraf dan mata terkenal memerlukan dosis obat lebih tinggi dan lebih mudah relaps atau kambuh kembali karena otak dan mata memiliki penghalang yang membuat obat dalam aliran darah susah untuk menembus. Namun, ada 2 kucing yang juga mengalami gejala saraf dan 1 kucing mengalami gejala mata (uveitis) dalam penelitian ini. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa pengobatan FIP 42 hari bisa diaplikasikan untuk FIP saraf dan mata juga, jika dibuktikan dalam penelitian lain di kemudian hari.

Obat apa yang digunakan dalam penelitian? Saat ini, terdapat beberapa obat FIP dalam beberapa bentuk sediaan dan cara pemberian. Penelitian ini menggunakan sediaan GS-441524 (metabolit remdesivir) oral yang diperoleh secara legal dan diracik oleh BOVA Specials di Inggris dengan dosis 15 mg/kg. Isu legalitas obat cukup penting untuk ditekankan, karena banyak obat FIP GS-441524 ilegal yang konsentrasinya berbeda dengan yang tertera di label (Jones, Novicoff, Nadeau, & Evans, 2021). Dosis yang tidak akurat — dan mungkin properti lain obat, seperti bioavailabilitas — tentu bisa memengaruhi efektivitas pengobatan.

Dosis pengobatan GS-441524 yang digunakan juga cukup tinggi, lebih dari 2 kali lipat dosis yang sebenarnya direkomendasikan untuk pengobatan FIP basah (6 mg/kg). Tim peneliti memilih dosis 15 mg/kg berdasarkan teori bahwa pada semua kucing FIP, sedikit banyak virus FCoV sudah menyerang sistem saraf, meski tidak menunjukkan gejala saraf. Terlebih, dalam penelitian ini memang ada beberapa kucing yang menunjukkan gejala saraf.

Fakta mengenai jenis obat dan dosis obat ini penting untuk diketahui sebelum mengaplikasikan pengobatan FIP 42 hari. Penelitian ini belum bisa mendukung pengobatan 42 hari pada kucing yang menggunakan obat lain, seperti molnupiravir, ataupun GS-441524 dengan dosis yang lebih rendah. Penelitian ini juga menggunakan rute oral, bukan injeksi. Walau idealnya rute yang digunakan juga sama, saya pribadi merasa hasil ini masih bisa diaplikasikan untuk GS-441524 injeksi. Biasanya, bioavailabilitas obat yang diinjeksi lebih tinggi dari obat oral. (Bioavailabilitas adalah seberapa banyak proporsi obat yang diberikan yang masuk ke peredaran darah dan bisa mencapai target organ yang dituju). Satu poin penting yang saya temukan juga, salah satu distributor GS-441524 yang paling terkenal di Indonesia menyediakan kapsul oral dengan dosis yang memang lebih tinggi daripada dosis yang direkomendasikan untuk injeksi. Mungkin mereka memformulasikannya seperti itu untuk menutupi kemungkinan kurangnya bioavailabilitas obat oral, tapi ini juga memudahkan pemberian dosis yang lebih besar dengan rute oral, sebagaimana dalam penelitian ini, ketimbang injeksi.

Pertanyaan berikutnya terkait dengan desain penelitian. Ada 20 kucing yang diobati selama 84 hari dan 20 kucing diobati selama 42 hari. Dua ekor kucing, satu dari masing-masing grup, ditidurkan sebelum penelitian selesai karena sakitnya terlalu parah. Dalam 168 hari follow up, tidak ada kucing yang mengalami relaps FIP. Pertanyaannya, apakah sampel 19 kucing tersebut cukup untuk menyatakan dengan percaya diri bahwa pengobatan 42 hari setara dengan 84 hari? Jumlah terkecil kucing yang bisa mengalami relaps adalah 1 ekor dari 19 kucing. Jika itu terjadi, artinya 5% kucing mengalami relaps FIP. Seandainya ternyata peluang relaps FIP lebih kecil dari 5%, desain penelitian ini tidak cukup sensitif untuk mendeteksinya. Misalnya, kalau ternyata peluang relaps adalah 1%, akan ada 1 dari 100 kucing yang mengalami relaps, dan karenanya akan perlu 100 ekor kucing FIP dalam penelitian yang diobati selama 42 hari, dan 100 lagi yang diobati selama 84 hari.

Namun, ada 2 pertanyaan yang belum ada jawabannya di sini: berapa peluang relaps kalau kucing diobati 84 hari? Baik diobati 84 hari ataupun 42 hari, peluangnya tidak mungkin 0. (Dalam satu penelitian (Taylor et al., 2023), 10.8% kucing mengalami relaps selepas pengobatan, tapi penelitian tersebut memasukkan semua tipe FIP dan menggunakan GS-441524 dan remdesivir dengan dosis yang berbeda dari penelitian ini, sehingga hasilnya tidak bisa dipakai mentah-mentah.) Yang kita inginkan bukan menjawab durasi pengobatan yang tidak memungkinkan adanya relaps (karena itu tidak mungkin), tetapi apakah risiko relaps keduanya sama atau bisa dibandingkan. Terlepas dari itu, kita tahu dari 19 kucing, tidak ada yang mengalami relaps, dan karenanya kemungkinan relaps tersebut kemungkinan kurang dari 5%, sehingga pertanyaan keduanya adalah: apakah risiko kurang dari 5% tersebut dapat diterima? Jika ya, maka sah-sah saja menggunakan durasi pengobatan FIP 42 hari.

Ada satu komponen lagi yang perlu menjadi dasar kesimpulan kita: lama waktu follow up. Penelitian cuma mengikuti perkembangan kucing selama 168 hari atau 24 minggu sejak mulai pengobatan. Memang terkesan sebentar, tapi sebenarnya durasi ini masuk akal karena dalam satu penelitian, 91% kejadian relaps FIP terjadi selama waktu pengobatan atau dalam 60 hari setelah pengobatan selesai (Taylor et al., 2023). Biar begitu, tentu ada juga kejadian relaps yang lebih lama dari itu, bahkan lebih dari setahun setelah pengobatan.

Bagaimana menyikapi semua ini? Terlepas dari detail-detailnya, kita patut gembira dengan penelitian ini, bahwa ternyata pengobatan FIP selama 42 hari bisa mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda dari pengobatan 84 hari. Namun, detail tersebut tidak boleh terlepas dari pandangan kita. Sejauh ini, pengobatan FIP 42 hari terbukti menghasilkan angka kesembuhan yang baik dan relaps yang cukup rendah selama 168 hari, tetapi hanya pada kasus FIP basah dan dengan dosis yang sangat tinggi (15 mg/kg). Perlu kehati-hatian untuk tidak gegabah mengaplikasikan rencana pengobatan 42 hari ke semua kucing FIP. Ingat juga bahwa tiap kucing bisa merespon pengobatan dengan berbeda. Ada yang responnya cepat, ada yang lambat. Untuk kucing yang responnya lambat, apa lagi belum pulih sepenuhnya pada hari ke-42, tentu lebih bijak jika tetap menggunakan durasi pengobatan yang lebih panjang.

Referensi

Jones, S., Novicoff, W., Nadeau, J., & Evans, S. (2021). Unlicensed gs-441524-like antiviral therapy can be effective for at-home treatment of feline infectious peritonitis. Animals, 11(8), 1–14. https://doi.org/10.3390/ani11082257

Taylor, S. S., Coggins, S., Barker, E. N., Gunn-Moore, D., Jeevaratnam, K., Norris, J. M., … Tasker, S. (2023). Retrospective study and outcome of 307 cats with feline infectious peritonitis treated with legally sourced veterinary compounded preparations of remdesivir and GS-441524 (2020–2022). Journal of Feline Medicine and Surgery, 25(9). https://doi.org/10.1177/1098612X231194460

Zuzzi-Krebitz, A. M., Buchta, K., Bergmann, M., Krentz, D., Zwicklbauer, K., Dorsch, R., … Hartmann, K. (2024). Short Treatment of 42 Days with Oral GS-441524 Results in Equal Efficacy as the Recommended 84-Day Treatment in Cats Suffering from Feline Infectious Peritonitis with Effusion—A Prospective Randomized Controlled Study. Viruses, 16(7). https://doi.org/10.3390/v16071144

Leave a comment