Beberapa kali, saya pernah lihat pemilik kucing panik karena mata kucingnya jadi putih. Kalau pemilik kucing bertanya di base, pasti ada saja balasan yang berkata dengan percaya diri bahwa kucing tersebut cacingan dan harus dikasih obat cacing. Bagian putih tersebut sebenarnya adalah bagian normal anatomi mata kucing yang disebut membrana nictitans atau third eyelid (kelopak mata ketiga).

Bukan kucing saja, tetapi banyak hewan lain juga punya kelopak mata ketiga ini. Bahkan, pada burung dan reptil, third eyelid dapat menutupi seluruh permukaan mata selaras fungsinya untuk melindungi mata dan membersihkan mata. Third eyelid juga mengandung kelenjar yang menghasilkan sebagian air mata. Namun, fenomena terangkatnya third eyelid yang berkepanjangan ini hanya terjadi pada kucing, dan sayangnya, belum banyak penelitian mengenai fenomena ini. Fenomena tersebut dinamakan haws syndrome, mengikuti nama lain kelopak mata ketiga, yakni haw. Kucing dapat mengalami haws syndrome karena ada beberapa serat otot halus yang bertaut pada third eyelid, yang kemudian dipengaruhi saraf simpatetik. Otot halus ini tidak ada pada hewan lain. Di antara sedikit literatur yang tersedia, ada satu publikasi berjudul Clinicopathological findings in cats with haws syndrome yang baru saja diterbitkan diterbitkan September 2024 ini di jurnal Vet Record dan akan saya bahas.

Third eyelid pada burung lapwing by Toby Hudson – Own work, CC BY-SA 3.0

Definisi haws syndrome adalah pengangkatan third eyelid secara yang terjadi secara akut pada kedua mata kucing. Kondisi ini sebenarnya tidak berbahaya, dan pada sebagian besar kasus, akan “sembuh” dengan sendirinya. Efek terburuknya mungkin hanya kucing kesusahan melihat karena matanya tertutup sebagian. Mungkin, karena itu, haws syndrome masih jarang diteliti.

Salah satu asumsi yang sering dikaitkan dengan haws syndrome adalah kemunculannya disebabkan diare atau masalah pencernaan lain. Asumsi ini bisa ditarik ke asumsi simplistik yang saya bahas di awal, bahwa terangkatnya third eyelid disebabkan serangan cacing. Asumsi lain yang muncul adalah bahwa haws syndrome disebabkan masalah, peradangan, atau hipersensitivitas pada saraf yang mengendalikan naik turunnya third eyelid. Namun, sejauh ini, semua ini hanya sebatas asumsi yang belum dibuktikan secara ilmiah.

Dalam penelitian Fruchter et al. yang saya bahas, terdapat 10 kucing dengan haws syndrome yang hendak dianalisis kondisi klinis dan hasil laboratoriumnya, dengan harapan dapat menemukan hubungan haws syndrome dengan kondisi tertentu, yang mungkin bisa ditelusuri lebih lanjut sebagai penyebabnya. Kesepuluh kucing mengalami pengangkatan third eyelid pada kedua mata kurang dari 14 hari sebelum datang ke rumah sakit hewan. Selain itu, kelopak mata atas mereka juga nampak sayu. Kucing-kucing ini tidak memiliki penyakit mata lain yang dapat menyebabkan third eyelid mereja terangkat.

Hasil pemeriksaan fisik semua kucing tidak menunjukkan kelainan yang berkesan. Kebanyakan dari mereka (6/10) sudah divaksinasi dan vaksinnya up to date, serta baru diberi obat cacing dalam 30 hari terakhir. Status virus FIV dan FeLV mereka semuanya negatif. Ada beberapa kelainan pada pemeriksaan darah, tetapi tidak ada yang cukup mengkhawatirkan dan semuanya bersifat insidental menurut peneliti. Berdasarkan pemeriksaan dasar mata, semua kucing memilik produksi air mata dan tekanan bola mata yang normal, serta tidak ada luka pada kornea. Ketika ditetesi dengan phenylephrine 1%, sebuah obat yang menstimulasi saraf simpatetik mata, third eyelid turun dan normal kembali dalam 7 sampai 20 menit, walau setelah itu naik lagi. Ini menunjukkan bahwa ada pengaruh kelainan saraf simpatetik dalam kondisi ini.

Dari 10 kucing, ada 4 yang mengalami diare dalam 3 minggu terakhir. Untuk menjawab asumsi hubungan haws syndrome dan gangguan pencernaan, pemilik kucing diminta membawa sampel feses segar untuk diperiksa di lab. Empat kucing ditemukan memilik antigen parasit Giardia sp. dalam fesesnya. Giardia adalah salah satu protozoa yang umum menyebabkan diare, baik pada hewan maupun manusia. Satu kucing ditemukan mengalami dysbiosis — kondisi ketidakseimbangan populasi bakteri dalam usus. Spesifiknya, kucing tersebut mengalami kelebihan pertumbuhan bakteri Clostridium dan spiroketa. Namun, cukup mengejutkannya, tidak ditemukan larva atau telur cacing dalam semua sampel feses. Biar begitu, kucing-kucing ini diberi obat cacing untuk memastikan tidak ada pengaruh cacing yang membuat mereka mengalami haws syndrome.

Parasit giardia – mnhn.fr – P Grellier

Ada satu temuan unik, yaitu terdapat satu kucing dengan diare yang baru saja diadopsi ke rumah baru. Setelah itu, 3 kucing lain dalam rumah tersebut ikut mengalami haws syndrome, tetapi tidak mengalami diare. Ini memunculkan asumsi baru, bahwa haws syndrome bisa jadi disebabkan oleh sesuatu yang menular.

Saat masa penulisan artikel untuk publikasi, 9 dari 10 kucing sudah tidak mengalami haws syndrome. Rata-rata memerlukan waktu 38 + 23 hari sampai sembuh sendiri. Dari 9 kucing, ada 3 yang kambuh, tapi tidak mengalami diare. Mereka kemudian kembali sembuh sendiri. Namun, ada satu kucing yang masih mengalami haws syndrome sampai penulisan, 197 hari sejak pertama mengalaminya pertama kali. Kucing ini berasal dari rumah dalam paragraf sebelumnya, di mana satu kucing dicurigai “menularkan” haws syndrome ke kucing lain.

Apa saja hal baru yang dapat dipelajari dari penelitian ini?

Sayangnya, penyebab pasti haws syndrome tetap tidak diketahui, tapi fenomena unik penularan haws syndrome dalam satu rumah menguatkan asumsi bahwa sindrom ini mungkin disebabkan agen penyakit menular. Agen tersebut bisa berupa virus, bakteri, protozoa, tetapi kemungkinan kecil berupa cacing karena alasan berikut: i) sebagian besar kucing rutin dan baru saja diberi obat cacing preventif; ii) tidak ditemukan cacing pada sampel feses; iii) pemberian obat cacing tidak menyembuhkan haws syndrome, setidaknya secara cepat.

Dalam penelitian ini, satu agen penyakit, protozoa Giardia, dapat dicurigai sebagai dalang haws syndrome, tetapi tidak bisa menjelaskan semua kasus, karena hanya 4 kucing yang positif terinfeksi Giardia. Virus juga menjadi kandidat penyebab yang sangat memungkinkan, mengingat sifat sebagian besar virus yang akan sembuh sendiri dan mudah menyebar. Namun, belum ada kandidat spesies virus yang betul-betul bisa dicurigai dan ditunjuk sebagai penyebab haws syndrome.

Pengobatan haws syndrome juga masih belum ditemukan. Memang, ketika diberi tetes mata phenylephrine 1%, mata kucing normal kembali, tapi hanya terjadi untuk sementara, sehingga kegunaannya lebih sesuai untuk alat diagnostik daripada pengobatan. Namun, ketiadaaan pengobatan ini bukan sesuatu yang perlu dicemaskan, karena secara umum, kondisi haws syndrome bukan sesuatu yang membahayakan.

Referensi

1. Fruchter B, Kuzi S, Pe’er O, Ofri R, Sebbag L. Clinicopathological findings in cats with haws syndrome. Vet Rec. 2024;(e4646). doi:10.1002/vetr.4646

Leave a comment