Di tubuh kita dan hewan peliharaan kita, triliunan bakteri menumpang hidup dan membentuk ekosistem sendiri. Bahkan, jumlah mereka lebih banyak dari jumlah sel di tubuh. Keberadaan bakteri ini adalah hal normal, tetapi kehidupan mereka juga punya dampak pada kesehatan makhluk yang mereka tinggali. Menyadari hal ini, ilmuwan berusaha memanfaatkan dan memanipulasi mikrobioma – istilah untuk komunitas mikroorganisme, termasuk bakteri, yang hidup di tubuh manusia atau hewan – untuk meningkatkan status kesehatan inangnya. Jika pernah dengar istilah probiotik, sebenarnya inilah tujuannya. Sekarang, sudah banyak probiotik yang digunakan di hewan peliharaan. Seringkali juga probiotik manusia diberi ke hewan. Saya akan ulas mengenai probiotik dan prebiotik – dua istilah yang sering tertukar – dan sejauh mana kegunaan probiotik pada hewan anjing dan kucing yang kita tahu sejauh ini.

Definisi probiotik dan prebiotik

Kalau merujuk definisi World Health Organization (WHO), probiotik adalah mikroorganisme hidup, yang, jika diberikan dalam jumlah yang cukup, memberikan manfaat bagi kesehatan inangnya.1 Sementara, prebiotik adalah substrat yang digunakan secara selektif oleh mikroorganisme untuk memberikan manfaat bagi kesehatan.2 Sederhananya, probiotik adalah mikroorganismenya sendiri, bisa berupa bakteri, fungi, atau virus, tetapi paling banyak memang bakteri. Sementara itu, prebiotik adalah makanannya probiotik. Biasanya, prebiotik berupa serat yang bisa difermentasi. Sebenarnya, istilah probiotik dan prebiotik tidak hanya berlaku untuk produk yang diberikan secara oral dan bekerja di usus. Mikrobiota juga ada di organ lain, misalnya kulit, sehingga pemberian probiotik juga berlaku untuk organ lain. Namun, saya hanya akan membahas probiotik dalam konteks usus.

Selain probiotik dan prebiotik, ada juga istilah sinbiotik dan postbiotik. Sinbiotik adalah produk yang mengandung bakteri hidup dan juga substrat prebiotik. Secara sederhana, sinbiotik bisa disebut gabungan prebiotik dan prebiotik, walau definisi resminya agak berbeda, karena tidak semua bakteri yang diberikan dalam sinbiotik bisa disebut probiotik. Postbiotik adalah zat bermanfaat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Saya tidak akan membahas sinbiotik dan postbiotik terlalu banyak karena manfaat mereka juga terkait dengan probiotik dan prebiotik.

Tidak semua produk bakteri yang diklaim sebagai probiotik bisa benar-benar disebut probiotik. Ada beberapa poin penting dalam definisi probiotik yang perlu dipenuhi.

Ruth Ellison, CC BY 2.0 https://creativecommons.org/licenses/by/2.0, via Wikimedia Commons

Probiotik harus hidup

Pertama, bakteri yang diberikan harus masih hidup ketika diberikan. Menjaga bakteri tetap hidup selama penyimpanan dan transportasi produk, serta ketika dikonsumsi merupakan sebuah tantangan. Pajanan oksigen, kelembaban, suhu, dan pH menentukan berapa banyak bakteri yang tetap hidup ketika probiotik sampai ke tangan pembelinya.3 Pernah ada penelitian di Kanada yang menemukan hanya 4 dari 15 produk probiotik untuk hewan yang mengandung bakteri hidup sebanyak yang diklaim di labelnya.4 Lebih parahnya lagi, ketika penelitian dilakukan di pet food yang diklaim mengandung probiotik (bukan produk spesifik probiotik saja), tidak ada yang mengandung jumlah bakteri sebanyak yang diklaim, bahkan banyak yang sudah tidak mengandung bakteir hidup sama sekali.5 Alih-alih pembuat produknya tidak jujur, sebenarnya ini lebih menggambarkan susahnya menjaga kualitas produk yang mengandung probiotik.

Saat masuk ke mulut, bakteri probiotik masih harus melewati perjalanan yang panjang dan sulit. Di mulut, mereka akan bertemu dengan air liur, yang dapat menahan bakteri untuk tidak lewat ke saluran cerna. Selanjutnya, di lambung ada asam lambung dan berbagai enzim pemecah protein yang dapat membunuh dan mencerna probiotik (karena sebagian besar komponen pembentuk bakteri adalah protein). Ketika sampai ke usus halus, mereka masih bertemu enzim-enzim tersebut, tetapi juga ada asam empedu yang mengancam mereka. Jika mereka berhasil sampai ke kolon, kondisi anaerob (tidak ada oksigen) mungkin kurang menguntungkan bagi sebagian bakteri, ditambah lagi mereka harus bersaing dengan banyaknya bakteri yang menetap di sana.3 Karena itu, beberapa teknologi, seperti mikroenkapsulasi dan rekayasa permukaan sel, dikembangkan untuk meningkatkan kemungkinan hidup probiotik sampai ke lokasi targetnya.6

Probiotik harus ada dalam jumlah yang cukup.

Probiotik juga harus mengandung bakteri dalam jumlah yang cukup ketika diberikan ke hewan agar efektif. Berapa banyak yang dikatakan cukup? Beberapa sumber mengenai probiotik di manusia menyebutkan jumlah minimal 1 x 108 sampai 1 x 1011 CFU per hari, tergantung sumbernya.4 Sebagai gambaran, dua produk probiotik yang cukup terkenal, Fortiflora (Purina ProPlan) mengandung Enterococcus faecium SF68 sebanyak 1 x 108 CFU/g dan Proviable DC (Nutramaxx) mengandung campuran bakteri dengan jumlah total 5 x 10CFU per kapsul. Tentu jumlah juga terkait dengan kemampuan hidup bakteri yang sebelumnya dijelaskan. Dalam penelitian yang menguji jumlah bakteri dalam pet food mengandung probiotik, pet food dengan probiotik terbanyak hanya mengandung rata-rata 1,8 x 105 CFU/g5. Artinya, hewan harus makan setengah kilogram makanan tersebut per harinya untuk dapat mengkonsumsi dosis minimal 1 x 108 CFU. Hampir tidak mungkin kecuali untuk anjing yang besar. Dan, semua pet food lain mengandung kadar probiotik di bawah itu.

Probiotik harus memberi manfaat bagi kesehatan

Tidak semua bakteri yang hidup di usus bermanfaat bagi kesehatan. Banyak yang hanya “menumpang hidup” saja, bahkan bisa menyebabkan penyakit dalam kondisi tertentu. Agar dapat disebut probiotik, bakteri yang diberikan harus terbukti memberi manfaat bagi kesehatan.

Perlu diketahui bahwa probiotik bersifat spesifik terhadap spesies hewan, karena jenis bakteri dalam probiotik idealnya berasal dari bakteri yang memang ditemukan di usus hewan tersebut.7 Spesifiknya probiotik tidak cukup hanya pada level spesies, tapi sampai ke level strain. Jadi, probiotik yang biasa digunakan pada manusia, belum tentu dapat digunakan sebagai probiotik yang bermanfaat untuk hewan. Mengingat manusia dan anjing adalah omnivora, sedangkan kucing adalah karnivora, tentu ada perbedaan dalam komposisi bakteri di usus ketiganya dan bakteri apa yang akan bermanfaat. Misalnya, probiotik hewan FortiFlora (Purina ProPlan) mengandung Enterococcus faecium strain SF68 dan Prostora (IAMS) menggunakan Bifidobacterium animalis AHC7. Sementara itu, Lacto-B (Novell Pharmaceutical Laboratories), salah satu probiotik manusia yang paling banyak digunakan di Indonesia, menggunakan bakteri Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium longum, dan Streptococcus thermophilus.

Manfaat seperti apa? Beberapa manfaat probiotik sudah banyak diteliti dan berlaku umum, misalnya mencegah serangan oleh bakteri jahat penyebab penyakit. Bakteri probiotik melekat ke usus, sehingga bakteri jahat tidak bisa melekat. Probiotik juga memperkuat pertahanan usus sehingga zat dan bakteri berbahaya tidak mudah masuk dan menyebar ke dalam tubuh. Konsumsi prebiotik oleh probiotik menghasilkan zat bermanfaat, utamanya asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid, SCFA) yang menjadi sumber energi yang cepat bagi sel-sel di usus. Sel-sel usus yang mendapat cukup energi membuat pergerakan atau motilitasnya juga lebih baik.1

Dalam kondisi sakit, terkadang komposisi bakteri usus menjadi tidak seimbang – suatu kondisi yang disebut disbiosis. Pemberian probiotik dapat membantu mikrobiota usus agar cepat normal kembali. Selain itu, bakteri probiotik juga berperan dalam sintesis vitamin K dan B12, serta daur ulang asam empedu untuk dibawa kembali ke hati.1

Namun, banyak manfaat yang lebih spesifik terhadap probiotik tertentu dan bukti ilmiahnya masih lemah. Saat ini, banyak penelitian mengenai efek probiotik terhadap sistem saraf, kekebaan, endokrin, ginjal, kulit, dan lainnya, tetapi kegunaan mereka belum sebanyak dan semeyakinkan probiotik di usus.1

Kegunaan probiotik di anjing dan kucing

Cukup banyak penelitian yang melihat efek probiotik pada anjing dan kucing. Saya tidak akan penelitian mengenai efek probiotik pada komposisi bakteri usus, tetapi hanya penelitian yang mengulas efek probiotik pada gejala klinis dan penyakit tertentu.

Baik di manusia maupun hewan, probiotik paling banyak digunakan untuk kondisi saluran cerna, yang biasanya menyebabkan diare, baik akut maupun kronis. Ada lebih banyak bukti ilmiah mengenai kegunaan probiotik pada diare dibanding kondisi lain. Namun, bukti manfaat probiotik untuk diare anjing dan kucing tidak terlalu banyak dan kuat. Beberapa studi yang menunjukkan manfaat juga bersifat spesifik terhadap strain, dosis, dan kondisi tertentu, dan karenanya harus diinterpretasikan dengan hati-hati.8 Ringkasan efek pemberian probiotik dalam berbagai kondisi diare dapat dilihat pada tabel di bawah. Diare juga merupakan efek samping yang umum dari pemberian antibiotik karena antibiotik dapat membunuh bakteri normal usus dan menyebabkan ketidakseimbangan mikrobioma usus. Namun, sejauh ini pemberian probiotik tidak bermanfaat mencegah diare karena pemberian antibiotik enrofloxacin, metronidazole, amoxicillin-clavulanate, dan clindamycin.8,9

sumber: (8)

Ada satu penelitian yang mencari tahu efek pemberian probiotik Lactobacillus rhamnosus GG pada atopik dermatitis atau alergi lingkungan terhadap beberapa alergen.10 Satu kelompok anak anjing diberi probiotik sejak usia 3 minggu sampai 6 bulan dan satu kelompok lagi tidak. Saat berusia 3 sampai 4 tahun, kelompok yang diberi probiotik menunjukkan gejala klinis yang lebih ringan dan kadar antibodi IgE (penyebab alergi) yang lebih rendah. Namun, dalam penelitian ini, pengamat bisa tahu apakah anjing diberi probiotik atau tidak, sehingga bisa menimbulkan bias dalam pengamatan. Sejauh ini, bukti manfaat probiotik untuk masalah kulit terbilang lemah.

Probiotik juga sering digunakan sebagai bagian terapi gagal ginjal kronis (chronic kidney disease, CKD) pada kucing. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi pengobatan biasa dilakukan untuk mengontrol gejalanya dan memperlambat proses keparahannya. Probiotik sering diberikan untuk mengurangi racun uremik dari usus diserap dan masuk dalam darah. Salah satu produk probiotik yang dipasarkan untuk kondisi CKD adalah Azodyl (Vetoquinol) yang mengandung Lactobacillus acidophilus KB27, Bifidobacterium longum KB31dan Streptococcus thermophilus KB19. Satu penelitian menyebutkan bahwa pemberian Azodyl mengurangi kadar kreatinin dan urea darah pada kucing CKD dalam 4 minggu, tetapi penelitian ini tidak menggunakan kucing kontrol yang tidak diberi Azodyl untuk dibandingkan, sehingga kekuatannya lemah.11 Dalam penelitian lain dengan desain yang lebih baik, penggunaan Azodyl yang dicampur makanan atau air tidak memengaruhi kadar urea dan kreatinin darah dibanding kelompok kucing kontrol ang tidak diberi Azodyl.12 Sebenarnya, ketiadaaan efek Azodyl dalam penelitian ini bisa karena penggunaannya yang tidak sesuai panduan, yaitu diberikan bersama kapsulnya. Azodyl harus diberi bersama kapsul karena bakteri di dalamnya tidak dapat bertahan di asam lambung dan bersifat anaerob, sehingga menjadi tidak aktif sebelum mencapai ujung belakang usus. Namun, penelitian ini juga tidak mendukung adanya manfaat Azodyl untuk CKD. Penelitian lain menggunakan Enterococcus faecium SF68 juga tidak menunjukkan perbaikan nilai laboratorium ginjal dan mikrobioma usus.13

Selain Fortiflora, Purina ProPlan juga mengeluarkan produk Calming Care yang berisi Bifidobacterium longum BL999 untuk mengurangi perilaku cemas dan stress pada anjing dan kucing. Pengujian pada kucing dengan feline herpesvirus-1 menunjukkan kadar kortisol darah dan perilaku stres yang lebih rendah.14Temuan serupa didapatkan pada Labrador Retriever dalam penelitian lain.15 Namun, sejauh ini jumlah penelitian mengenai BL999 sangat terbatas dan hanya berupa penelitian internal atau disponsori Purina.

Keamanan dan efek samping probiotik

Probiotik sebetulnya relatif aman. Beberapa penelitian melaporkan probiotik bisa membuat feses lebih lembek, tetapi hanya jika pemberiannya terlalu banyak.9 Selain itu, dalam beberapa kasus di manusia, bakteri probiotik dapat berpindah dari usus dan masuk ke aliran darah, menyebabkan infeksi yang meluas. Namun, kejadian ini jarang dan belum pernah dilaporkan di hewan. Kejadiannya lebih mungkin kalau manusia atau hewan memang memiliki faktor pemberat yang membuat imunitasnya tidak bagus.16

Masalah lain terkait keamanan probiotik adalah quality controlnya. Sebelumnya, saya sudah bahas betapa sulitnya quality control pada probiotik dan banyaknya produk yang tidak memenuhi standar. Yang ditakutkan bukan hanya probiotiknya tidak bermanfaat, tetapi bisa jadi ada bakteri lain, yang tidak disebutkan, yang bisa membahayakan.4

Sejauh ini, memang bukti ilmiah mengenai manfaat probiotik pada hewan belum banyak dan kuat. Pemberian probiotik sebaiknya tetap didasarkan pada arahan dokter hewan, tentunya setelah ada pemeriksaan fisik yang menyeluruh untuk memastikan pemberian probiotik tepat sasaran. Tidak semua probiotik kualitas dan manfaatnya sama.

Daftar Pustaka

1.         Hill, C. et al. The International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics consensus statement on the scope and appropriate use of the term probiotic. Nat Rev Gastroenterol Hepatol 11, 506–514 (2014).

2.         Gibson, G. R. et al. Expert consensus document: The International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) consensus statement on the definition and scope of prebiotics. Nat Rev Gastroenterol Hepatol 14, 491–502 (2017).

3.         Yao, M. et al. Progress in microencapsulation of probiotics: A review. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety 19, 857–874 (2020).

4.         Weese, SJ. & Martin, H. Assessment of commercial probiotic bacterial contents and label accuracy. Canadian Veterinary Journal 52, 43–46 (2011).

5.         Weese, J. S. & Arroyo, L. Bacteriological evaluation of dog and cat diets that claim to contain probiotics. Canadian Veterinary Journal 44, 212–216 (2003).

6.         Kim, J., Muhammad, N., Jhun, B. H. & Yoo, J.-W. Probiotic delivery systems: a brief overview. Journal of Pharmaceutical Investigation 46, 377–386 (2016).

7.         Wynn, S. G. Probiotics in veterinary practice. Journal of the American Veterinary Medical Association234, 606–613 (2009).

8.         Schmitz, S. S. Evidence‐based use of biotics in the management of gastrointestinal disorders in dogs and cats. Veterinary Record 195, 26–32 (2024).

9.         López Martí, Á., Montero Palma, C., López Martí, H. & Ranchal Sánchez, A. Efficacy of probiotic, prebiotic, synbiotic and postbiotic supplementation on gastrointestinal health in cats: systematic review and meta‐analysis. J of Small Animal Practice jsap.13822 (2025) doi:10.1111/jsap.13822.

10.       Marsella, R., Santoro, D. & Ahrens, K. Early exposure to probiotics in a canine model of atopic dermatitis has long-term clinical and immunological effects. Veterinary Immunology and Immunopathology146, 185–189 (2012).

11.       Palmquist, Ri. A Preliminary Clincial Evaluation of Kibow Biotics, a Probiotic Agent, on Feline Azotemia. Journal of American Holistic Veterinary Medical Association January-March,.

12.       Rishniw, M. & Wynn, S. G. Azodyl, a synbiotic, fails to alter azotemia in cats with chronic kidney disease when sprinkled onto food. Journal of Feline Medicine and Surgery 13, 405–409 (2011).

13.       Summers, S. C. Assessment of novel causes and investigation into the gut microbiome in cats with chronic kidney disease. (Colorado State University, United States, 2020).

14.       Davis, H. et al. Effect of Bifidobacterium longum 999 supplementation on stress associated findings in cats with FHV-1 infection. in 2021 ACVIM Forum Research Abstract Program vol. 35 2943–3079 (2021).

15.       Sacoor, C., Marugg, J. D., Lima, N. R., Empadinhas, N. & Montezinho, L. Gut‐Brain Axis Impact on Canine Anxiety Disorders: New Challenges for Behavioral Veterinary Medicine. Veterinary Medicine International 2024, 2856759 (2024).

16.       Merenstein, D. et al. Emerging issues in probiotic safety: 2023 perspectives. Gut Microbes 15, 2185034 (2023).

Leave a comment