Suara kucing selalu identik dengan “meong”, tapi semua orang yang pernah memelihara kucing pasti tahu mereka juga sering menghasilkan suara lain: “purr”. Purring adalah keunikan keluarga kucing (Felidae) dan sebagian keluarga musang (Viverridae).1 Namun, tidak semua anggota keluarga kucing diketahui bisa purring. Beberapa spesies yang terkenal mengaum (“roar”) seperti singa dan macan tutul dianggap tidak bisa purring. Suara ini dihasilkan melalui getaran di saluran pernapasan atas, tepatnya di otot suatu organ bernama laring. Suara purring berlangsung selama beberapa detik hingga menit, baik ketika kucing menarik napas ataupun menghembuskan napas keluar.1 Suara purring biasa memiliki intensitas dan frekuensi rendah. Maksudnya, suaranya biasa rendah dan tidak keras.
Mengapa dan kapan kucing purring?
Jawaban pertanyaan ini masih tidak diketahui pasti. Umumnya, purring dianggap tanda bahwa kucing merasa nyaman dan tidak terancam, tetapi kucing juga diketahui purring dalam kondisi kesakitan atau tidak nyaman, misalnya ketika melahirkan atau berada di meja operasi. Dalam konteks ini, purring diperkirakan sebagai sinyal mengalah kepada ancaman yang membuatnya tidak nyaman atau sebagai cara menenangkan diri sendiri.1 Kucing sakit juga ditemukan lebih sering purring daripada kucing sehat di klinik hewan.2

Kucing juga mengeluarkan suara purring sebagai cara meminta sesuatu pada manusia. Dalam satu penelitian, manusia, baik yang memelihara kucing maupun tidak, dapat membedakan suara purring ketika kucing meminta makanan dibandingkan purring biasa. Suara kucing yang meminta makanan dideskripsikan sebagai lebih “mendesak” dan kurang menyenangkan dibanding purring biasa, serta terdapat “suara puncak”, yaitu suara berfrekuensi tinggi yang lebih mirip “meong”, serupa dengan anak manusia kalau menangis minta makan.3
Cara-cara menghentikan purring
Kebanyakan orang senang-senang saja dan tidak terganggu dengan purring, tapi saya yakin ada satu kelompok manusia yang tidak suka purring: dokter hewan yang sedang mencoba mendengar suara jantung dan paru kucing. Salah satu komponen pemeriksaan fisik adalah auskultasi atau mendengarkan dengan stetoskop. Dokter hewan dapat mendeteksi adanya kelainan irama, frekuensi, intensitas jantung dan pernapasan melalui auskultasi. Biasanya, auskultasi harus dilakukan di tempat yang tenang dalam kondisi fokus. Purring tentu akan mengganggu kegiatan ini dan bisa membuat hasilnya tidak akurat.
Sejauh ini ada 2 penelitian yang mencoba mencari cara agar kucing tidak purring saat diperiksa. Penelitian pertama mengevaluasi beberapa cara, termasuk meniup telinga kucing, menyemprot aerosol ke meja periksa, dan menjalankan keran air di dekat kucing. Dari 341 kucing yang dilibatkan dalam penelitian, 18% purring selama pemeriksaan. Menjalankan keran air merupakan cara yang paling efektif dan berhasil menghentikan purring pada 81% (17 dari 21) kucing yang diujicobakan. Dalam metode ini, kucing diletakkan di meja periksa, kemudian keran air yang berjarak sekitar 1,4 meter dijalankan selama 2 sampai 10 detik. Setelah itu, kucing dibawa mendekat, sekitar 0,5 meter dari keran air. Metode lain, yaitu menyemprot aerosol ke meja (bukan ke wajah kucing) dan meniup angin ke telinga kucing juga berhasil menghentikan purring, tapi hanya pada 14% dan 50% kucing. Awalnya, penelitian ini juga mengambil data melalui pilot study yang melibatkan 3 metode lain, yaitu menekan hidung kucing, menggunakan mainan bersuara, dan mengusap kapas beralkohol di hidung kucing, tetapi ketiga metode ini kurang efektif dan tidak digunakan dalam penelitian sesungguhnya.4
Baru di tahun ini (2025), ada penelitian baru tentang metode menghentikan purring.2 Metode dari Belanda ini memanfaatkan pengetahuan anatomis tentang produksi suara purr, yaitu dengan memegang laring kucing dari bawah menggunakan ibu jari dan telunjuk satu tangan, sementara tangan lain digunakan untuk memegang stetoskop. Sebanyak 8.8% (51) dari 582 kucing yang diikutksertakan dalam penelitian ini purring ketika diperiksa. Ada 4 ekor kucing yang berhenti purring secara spontan sebelum menggunakan metode apapun. Dari sisa kucing yang tetap purring, 89% kucing (42 dari 47) berhasil dibuat berhenti purring dengan metode memegang laring ini. Sebagian besar harus terus dipegang laringnya agar tidak purring kembali (33 dari 42), tetapi sisanya hanya perlu dipegang sebentar.


Dari antara kucing yang tidak berhasil dibuat berhenti purring, ada satu kucing yang terlalu gelisah sehingga tidak bisa diam di satu tempat untuk waktu yang lama, dan ada satu kucing lagi yang sensitif dan batuk-batuk ketika dipegang kerongkongannya. Menurut penelitinya, metode ini tidak menyebabkan stres karena tidak ada kucing yang menjadi tidak kooperatif selama penelitian. Metode ini juga mudah dipelajari, karena seorang mahasiswa kedokteran hewan bisa melakukannya dengan latihan yang minimal.
Referensi
1. Peters, G. Purring and similar vocalizations in mammals. Mammal Review 32, 245–271 (2002).
2. Vliegenthart, T. & Szatmári, V. A New, Easy-to-Learn, Fear-Free Method to Stop Purring During Cardiac Auscultation in Cats. Animals 15, 236 (2025).
3. McComb, K., Taylor, A. M., Wilson, C. & Charlton, B. D. The cry embedded within the purr. Current Biology 19, 507–508 (2009).
4. Little, C. J. L., Ferasin, L., Ferasin, H. & Holmes, M. A. Purring in cats during auscultation: how common is it, and can we stop it? J of Small Animal Practice 55, 33–38 (2014).
5. Herbst, C. T. et al. Domestic cat larynges can produce purring frequencies without neural input. Current Biology 33, 4727-4732.e4 (2023).
