Anak kucing sangat sering mengalami sakit mata, entah karena virus, bakteri, atau trauma dari cakaran dan sebagainya. Jika tidak diobati segera, seringkali matanya makin rusak dan berakhir buta. Jika sudah sampai tahap ini, salah satu opsi yang bisa ditawarkan dokter hewan adalah operasi enukleasi, yaitu pengambilan bola mata. Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah operasi ini harus dilakukan. Toh, kucingnya sudah buta dan matanya sudah kempis. Salah satu “keunikan” kucing membuat mata seperti ini bisa jadi masalah besar di kemudian hari, yaitu kanker mata yang dikenal dengan nama feline ocular post-traumatic sarcoma (FOPTS).
Anatomi mata kucing
Anatomi mata kucing sebetulnya tidak berbeda jauh dari mata manusia. Di bagian terluar ada lapisan bening bernama kornea di tengah dan lapisan putih bernama sklera di sekitarnya. Kedua lapisan ini merupakan pelindung mata. Kornea seharusnya bening dan tembus pandang, sehingga kita dapat melihat bagian di dalamnya dengan jelas. Namun, pada kondisi sakit, kornea dapat berkabut, terisi cairan, atau mengandung endapan.

Di belakang dan melalui kornea, kita dapat melihat iris, bagian yang memberi warna pada mata. Di belakang iris, terdapat lensa yang memfokuskan cahaya yang masuk untuk diproses lebih lanjut. Terdapat bagian berwarna hitam yang berlubang di tengah iris, yang dikenal sebagai pupil. Pupil dapat membesar atau mengecil, tergantung dari sedikit banyaknya cahaya yang masuk. Ukuran pupil dipengaruhi oleh kontraksi otot pada iris.
Bagian paling belakang mata adalah retina. Retina berfungsi menghantarkan cahaya yang diterima mata menuju saraf optik, yang kemudian akan menghantarkan informasi menuju otak agar diproses sebagai penglihatan. Semua bagian ini harus berfungsi dengan normal agar kucing dapat melihat dengan normal. Tentu, ada banyak bagian lain dari mata, dan bagian-bagian ini merupakan beberapa komponen terpenting saja.
Ada beberapa perbedaan antara mata kucing dan manusia. Retina kucing memiliki lebih sedikit sel kerucut (cone cells) dan lebih banyak sel batang (rod cells). Akibatnya, kemampuan kucing melihat warna tidak sebaik manusia, tetapi mereka lebih mampu melihat dalam gelap dibanding manusia. Kemampuan ini juga terbantu oleh adanya tapetum lucidum, sebuah lapisan di belakang retina yang mampu memantulkan cahaya dan membuat mata kucing nampak bersinar di malam hari. Selain itu, kucing memiliki kelopak mata ketiga yang berwarna putih dan sering disebut membrana nictitans.

Menentukan mata kucing yang rusak
Tentu, tidak semua kucing yang sakit mata berakhir dengan operasi pengangkatan mata. Sebagian besar kucing akan sembuh. Biasanya, operasi pengangkatan mata hanya menjadi pertimbangan ketika fungsi mata tidak bisa diselamatkan lagi, atau dengan kata lain, mata tersebut sudah buta. Untuk menentukan mata masih bisa melihat atau tidak, dokter hewan biasanya akan melakukan tes seperti menace test (mengejutkan kucing dengan tangan) atau dazzle reflex test (melihat respon mata kucing jika diberi cahaya tiba-tiba).
Jika kucing mengalami kebutaan, bisa jadi ada masalah di sistem saraf dan otaknya atau dalam struktur mata itu sendiri. Tidak semua kucing yang buta harus diambil matanya. Namun, pada anak kucing, seringkali terjadi kerusakan mata yang mengharuskan operasi pengangkatan mata. Kalau mata kucing terkena infeksi bakteri virus feline herpevirus-1 (FHV-1) yang tidak tertangani dengan baik, mula-mula akan ada luka pada korneanya dan mata akan membesar. Mata anak kucing lebih mudah membesar karena skleranya (bagian mata yang putih) yang lebih elastis. Setelah itu, bola matanya bisa pecah dan matanya menyusut seperti tidak ada mata. Di kondisi ini, sebenarnya mata kucing tetap ada, tapi mengalami kondisi phthisis bulbi.

Selain infeksi, kerusakan mata juga bisa terjadi karena trauma, misalnya jika matanya tertusuk benda asing sampai terjadi kerusakan lensa. Ini dapat menyebabkan phthisis bulbi juga ataupun tidak.
Infeksi parah maupun trauma seringkali menjadi indikasi untuk pengangkatan mata karena dua alasan. Pertama, struktur mata yang rusak masih bisa mengganggu kucing karena menyebabkan rasa sakit dan mengeluarkan cairan dari kelenjar di konjunktiva (kelopak mata). Saya bahkan pernah menemukan kucing dengan mata yang sudah susut tapi masih mengeluarkan darah. Kedua, kerusakan lensa dapat menyebabkan kanker FOPTS di kemudian hari.
Mengenai feline ocular post-traumatic sarcoma (FOPTS)
FOPTS adalah tumor mata yang paling umum ketiga di kucing, setelah iris melanoma dan iridociliary adenoma. Kebanyakan sel kankernya berasal dari sel epitel pada lensa, tapi ada juga yang berupa sel darah putih (limfoma) dan tulang (osteosarkoma). Yang menarik dari FOPTS, kasusnya seringkali didahului trauma dan peradangan yang berlangsung lama pada mata, terutama yang menyebabkan kerusakan kapsul lensa. FOPTS juga dilaporkan terjadi pada kucing yang tidak diketahui memiliki riwayat trauma, tetapi matanya rusak atau mengalami phthisis bulbi sejak lama terlepas dari penyebabnya.
Kanker FOPTS biasa menyerang kucing tua, dengan rata-rata umur 11 tahun. FOPTS dapat terjadi dalam hitungan bulan hingga belasan tahun sejak kejadian trauma. Kucing jantan dilaporkan lebih banyak terkena FOPTS, diduga karena mereka lebih sering bertengkar dan mata mereka lebih banyak mengalami trauma karena tercakar. Selain trauma, FOPTS juga bisa terjadi karena riwayat operasi atau injeksi pada mata.
Dalam kebanyakan kasus, kucing dengan FOPTS datang dengan keluhan matanya berubah warna karena pertumbuhan tumor, atau bisa juga matanya mengecil atau membesar. Dokter hewan akan melakukan pemeriksaan mata dan mungkin menyarankan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, urin, ultrasound, bahkan MRI. Karena kasus ini cukup kompleks dan sulit, kucing mungkin dirujuk ke dokter hewan yang memang sering menangani kasus mata.

Sejauh ini, satu-satunya terapi untuk kasus FOPTS adalah operasi enukleasi. Namun, enukleasi biasanya tidak dapat menyembuhkan FOPTS karena saat terdiagnosis, biasanya sel kanker sudah menyebar, setidaknya ke saraf mata. Karena ini juga, saat enukleasi FOPTS, biasanya dokter hewan akan mencoba mengambil sebanyak mungkin saraf mata. Enukleasi mungkin dapat memperpanjang hidup kucing selama beberapa bulan saja. Saat ini, belum ada laporan mengenai penggunaan kemoterapi atau radioterapi yang efektif untuk FOPTS.
Karena itu, sebaiknya operasi enukleasi dilakukan sebagai pencegahan pada mata yang rusak, daripada menunggu sampai terbentuk kanker. Sebetulnya, belum ada laporan mengenai keberhasilan enukleasi sebagai pencegahan kanker, tetapi langkah ini dinilai lebih banyak manfaatnya daripada membiarkan mata yang rusak.
Yang perlu diketahui sebelum operasi enukleasi
Seperti semua operasi, operasi enukleasi tentu memiliki risiko, baik yang muncul dari pembiusan atau prosedur enukleasi sendiri. Tidak semua kucing yang menjalani enukleasi memiliki profil risiko yang sama. Jika kucing dalam keadaan sehat dan berusia relatif muda, risiko akan lebih rendah daripada kucing yang tua dan punya penyakit pemberat. Sebaiknya, semua kemungkinan risiko ditanyakan dan didiskusikan dengan dokter hewan yang menangani sebelum operasi dilakukan. Pastikan bahwa Anda juga telah membaca dan menyetujui butiran yang tertera dalam surat persetujuan tindakan (informed consent) sebelum menandatanganinya.

Apa yang terjadi saat operasi enukleasi? Sebelum operasi, kucing akan dibius dan area sekitar mata yang akan diangkat akan dicukur dan dibersihkan agar steril dari mikroorganisme. Selanjutnya, sebagian kelopak mata atas dan bawah, dan seluruh bagian bola mata, termasuk kelenjar air mata dan kelopak mata ketiga, akan diangkat. Jika sudah tidak ada pendarahan, kedua bagian kulit kelopak mata akan dijahit. Dokter hewan mungkin menyarankan bola mata yang sudah diangkat dikirim ke lab untuk pemeriksaan histopatologi jika diperlukan. Setelah selesai, pembiusan akan dihentikan dan kucing ditunggu hingga bangun seperti semula.
Setelah operasi, kucing tetap memerlukan perawatan khusus untuk menghindari komplikasi pascaoperasi seperti pendarahan dan jahitan terbuka. Silakan ikuti arahan dokter hewan yang menangani, misalnya terkait penggunaan e-collar, pembersihan luka, dan kapan jahitan dibuka. Mungkin, beberapa dokter hewan tidak mengharuskan pembukaan jahitan jika pola jahitan yang digunakan terkubur di bawah kulit.
Referensi
Perlmann, E., Rodarte-Almeida, A. C. V., Albuquerque, L., Safatle, A. M. V., Pigatto, J. A. T., & Barros, P. S. M. (2011). Feline intraocular sarcoma associated with phthisis bulbi. Arquivo Brasileiro de Medicina Veterinária e Zootecnia, 63(3), 591–594. https://doi.org/10.1590/S0102-09352011000300009
Wood, C., & Scott, E. M. (2019). Feline ocular post-traumatic sarcomas: Current understanding, treatment and monitoring. Journal of Feline Medic
