Banyak studi sudah diterbitkan mengenai motivasi pemilik anjing dan kucing untuk memberi raw food, tetapi belum lama ini, di tahun 2024, ada studi dari Ludwig Maximilian University of Munich di Jerman yang justru menelusuri alasan pemilik berhenti memberikan raw food.1
Studi yang dilakukan berupa survei daring yang disebarluaskan melalui media sosial dan selebaran di klinik hewan. Sebanyak 1129 orang mengisi kuesioner, dan 845 orang menyelesaikan pengisiannya. Namun, hanya 802 kuesioner yang digunakan dalam analisis data. Ada 43 kuesioner yang tidak digunakan karena pengisinya belum sepenuhnya berhenti menggunakan raw foodatau pengisian dilakukan dengan tidak benar, tetapi penulis artikel tidak menjelaskan lebih rinci maksud “tidak benar” (incorrectly).
Populasi anjing dalam survei tersebar hampir merata antara anjing betina dan jantan, yang disteril maupun tidak. Perlu diketahui bahwa berbeda dengan Amerika, beberapa negara di Eropa melarang sterilisasi jika tidak ada alasan medis. Namun, Jerman tidak termasuk di antaranya. Jerman melarang mutilasi organ atau bagian tubuh hewan, tetapi sterilisasi dikecualikan dalam aturan ini.2 Sebagian besar (83%) anjing dalam survei adalah anjing ras ber-pedigree, jauh di atas kiraan populasi umum anjing di Jerman yang ber-pedigree (55%) menurut survei tahun 2019.
Dalam survei, pemilik anjing diperkenankan menuliskan satu alasan utama berhenti menggunakan raw food, kemudian mereka dapat mengisi lebih dari satu alasan sekunder di bagian berikutnya. Top 3 alasan utama berhenti menggunakan raw food adalah intoleransi (24%), sakit (20%), dan (raw food) tidak bisa diterima oleh anjing (15%). Beberapa alasan lain adalah terlalu banyak usaha yang dibutuhkan untuk menyiapkan raw food, terlalu mahal, tidak ada waktu, anjing dalam program penurunan berat badan, anjing perlu diet khusus, dan masalah kulit. Beberapa alasan diisi oleh kurang dari 1% pemilik hewan, di antaranya ketakutan akan defisiensi nutrisi, kualitas raw food yang rendah, masalah penyimpanan, ketakutan infeksi dan kuman, dan hasil pemeriksaan darah yang menyimpang.
Pola serupa tampak pada pertanyaan mengenai alasan sekunder. Intoleransi, sakit, dan kurangnya penerimaan tetap ada dalam top 4 alasan teratas, tetapi pada posisi kedua, hampir seperempat (23%) pemilik hewan memilih alasan perlu terlalu banyak usaha untuk menyiapkan raw food.
Secara umum, kesehatan (sakit) dan palatabilitas (penerimaan) merupakan alasan utama pemilik anjing di Jerman dalam survei ini berhenti menggunakan raw food. Ketika diminta untuk memperinci jenis gangguan pencernaan (pada anjing yang berhenti menggunakan raw food karena sakit pencernaan), pemilik anjing paling banyak menjawab inflammatory bowel disease (IBD). Jawaban ini sebenarnya meragukan (penulis studi juga menyatakan demikian) karena IBD adalah sebuah diagnosis yang didapat setelah mengeliminasi berbagai penyebab diare lain dan dikonfirmasi melalui biopsi, sebuah alur diagnosis yang panjang dan invasif. Namun, anjing-anjing tersebut tetap dapat dikatakan suspek mengidap IBD. Di antara pemilik yang berhenti menggunakan raw food 17% dilaporkan sudah memiliki masalah pencernaan sebelum menggunakan raw food, terapi 83% baru mulai mengalami masalah pencernaan setelah mengonsumsi raw food.
Penelitian ini juga menanyakan berapa lama penggunaan raw food sudah berlangsung. Jawaban berkisar dalam rentang di bawah setengah tahun sampai 18 tahun, dengan nilai tengah (median) 2 tahun. Ada pola yang teramati antara alasan berhenti menggunakan raw fooddan lama penggunaan raw food. Tidak mengejutkan, pemilik hewan yang berhenti karena anjingnya tidak menerima raw food mencatat durasi paling singkat (median 1 tahun). Populasi pemilik hewan yang paling lama menggunakan raw food adalah yang berhenti karena kenaikan berat badan anjingnya (median 5 tahun) dan ketakutan akan infeksi.
Sebagian besar (65%) pemilik dalam survei beralih menggunakan makanan kering (dry food) setelah berhenti menggunakan raw food. Pilihan paling umum kedua (44%) adalah makanan basah (wet food), diikuti makanan rumahan yang dimasak (home-cooked diet) (26%). Temuan ini menarik karena ada anggapan umum bahwa sebagian besar pengguna raw foodmemiliki kecenderungan menghindari makanan komersil, khususnya dry food (karena anggapan raw foodlebih sehat karena alami dan ketidakpercayaan pada makanan komersil)3,4, tetapi justru paling banyak yang beralih ke makanan kering. Namun, angka 65% ini mungkin masih lebih rendah dibandingkan populasi umum pemilik anjing yang menggunakan kibble di Jerman, meskipun tidak ada data pastinya.
Mengingat banyaknya penelitian mengenai bahaya mikrobiologis raw food, temuan dari penelitian ini, bahwa banyak anjing yang tidak lagi diberi raw food karena masalah pencernaan, mungkin ada kaitannya. Raw food memang tidak untuk semua anjing (dan kucing), terutama untuk populasi (hewan dan manusia pemiliknya) anak-anak, orang tua, hamil, dan memiliki kelainan imunitas. Jika ingin tetap menggunakan raw food, American Veterinary Medical Association (AVMA) memberikan panduan yang dapat dilihat pada link berikut.
Studi ini tentu punya batasan. Karena bentuknya survei yang diisi secara sukarela, ada kemungkinan hasilnya bias. Mereka juga tidak menanyakan demografi populasi yang mengisi survei. Kendati demikian, studi ini tetap sangat berharga sebagai survei pertama yang menelusuri pertanyaan mengenai alasan berhenti menggunakan raw food.
Referensi
1. Baum, L. L., Zablotski, Y., Busch, K. & Koelle, P. Reasons Why Dog Owners Stop Feeding Raw Meat-Based Diets (RMBDs)—An Online Survey. Pets 1, 20–32 (2024).
2. Fossati, P. Spay/neuter laws as a debated approach to stabilizing the populations of dogs and cats: An overview of the European legal framework and remarks. Journal of Applied Animal Welfare Science 27, 281–293 (2024).
3. Morelli, G., Bastianello, S., Catellani, P. & Ricci, R. Raw meat-based diets for dogs: Survey of owners’ motivations, attitudes and practices. BMC Veterinary Research 15, 1–10 (2019).
4. Morgan, S. K., Willis, S. & Shepherd, M. L. Survey of owner motivations and veterinary input of owners feeding diets containing raw animal products. PeerJ 2017, 1–16 (2017).
