Salah satu definisi vitamin adalah zat yang tidak bisa dihasilkan secara cukup oleh tubuh, sehingga harus diperoleh dari sumber lain. Merujuk pada definisi ini, secara saklek, suatu zat dapat dikatakan sebagai vitamin pada satu spesies, tapi tidak untuk spesies lainnya. Misalnya, marmut dan primata tidak bisa menghasilkan vitamin C, sehingga memerlukannya dari makanan, tetapi anjing dan kucing bisa menghasilkan vitamin C sendiri dari glukosa. Sebaliknya, primata, termasuk manusia, dapat membuat vitamin D sendiri dari paparan sinar UV di kulit, sementara anjing dan kucing tidak. Anjing dan kucing mendapatkan vitamin D dari makanannya, daging dan jeroan hewan lain, yang memang kaya vitamin D.

Pengetahuan mengenai metabolisme vitamin suatu spesies sangat penting karena memengaruhi komposisi makanan yang diperlukan, apalagi untuk spesies yang dijadikan hewan peliharaan, termasuk kelinci. Sebagai hewan peliharaan eksotik, masih banyak yang tidak kita ketahui tentang nutrisi kelinci. Namun, sebagai hewan eksotik yang paling populer dan hewan yang diternak untuk diambil dagingnya, mulai banyak penelitian tentang nutrisi kelinci. Salah satu grup di Finlandia tengah meluncurkan beberapa studi mengenai metabolisme vitamin D dan kalsium pada kelinci, dan beberapa di antara hasilnya cukup mengubah paradigma mengenai nutrisi kelinci. Artikel ini akan mengulas pengetahuan umum seputar vitamin D, kalsium, dan kelinci, serta beberapa temuan baru dari grup tersebut.

Pembicaraan mengenai fungsi vitamin D tidak mungkin terpisah dari kalsium. Kalsium merupakan mineral yang paling banyak di tubuh. Sebagian besar kalsium tersimpan dalam tulang, sementara sebagian lagi terdapat dalam plasma darah serta berbagai sel di tubuh. Selain sebagai komponen tulang, kalsium memiliki banyak fungsi lain, meliputi konduksi saraf, kontraksi otot, pembekuan darah, serta penyusun hormon dan enzim.

Peran utama vitamin D adalah membantu penyerapan kalsium dalam makanan di usus. Penyerapan kalsium di usus terjadi melalui 2 cara, yaitu pasif – bergantung pada perbedaan konsentrasi kalsium di usus dan di darah –, serta aktif – bergantung pada mekanisme transpor oleh vitamin D. Pada sebagian besar hewan, mekanisme transpor kalsium aktif lebih berperan penting. Kebalikannya, di kelinci, penyerapan kalsium lebih banyak terjadi melalui transpor pasif. Kelinci kesulitan membatasi berapa banyak kalsium yang ia serap. Akibatnya, peran vitamin D pada kelinci mungkin tidak sepenting pada hewan lain sehingga kebutuhannya pun lebih rendah hingga 5 kali dari mamalia lain. Namun, vitamin D tetap dibutuhkan ketika transpor aktif dibutuhkan, terutama ketika kadar kalsium dalam makanan kelinci relatif rendah atau kelinci sedang membutuhkan banyak kalsium, misalnya saat bunting dan menyusui.

Kelebihan kalsium paling banyak dikeluarkan melalui urin. Karena sistem penyerapan kalsium yang unik ini, kadar kalsium dalam darah kelinci lebih tinggi dari hewan lain. Kalsium yang dikeluarkan dalam urin pun lebih banyak juga. Kelinci akan membuang kelebihan kalsium dalam bentuk kalsium karbonat, yang membuat urin kelinci seringkali nampak keruh dan berpasir. Ini membuat kelinci mudah terkena gangguan saluran kemih. Ditambah lagi, sebagai herbivora, urin kelinci cenderung basa sehingga endapan kalsium karbonat sulit larut.

Ketidakseimbangan vitamin D, kalsium, serta fosfor juga diduga menjadi penyebab seringnya masalah gigi terjadi pada kelinci. Sayangnya, saat ini definisi ketidakseimbangan tersebut belum dikenal dengan pasti. Ada ahli yang mengatakan kelainan gigi terjadi karena kekurangan kalsium dan vitamin D, tetapi ada yang menyatakan sebaliknya (Jekl & Redrobe, 2013).

Beberapa tahun terakhir grup penelitian Finnish Rabbit Health Research di Finlandia melakukan serangkaian penelitian yang cukup mengubah paradigma mengenai metabolisme vitamin D dan kalsium pada kelinci.

Rentang referensi (nilai yang dianggap “normal”, walau definisi ini tidak akurat) kadar vitamin D pada serum darah kelinci belum diketahui secara pasti, tetapi mereka menemukan ambang batas 17 ng/ml sebagai batas minimum kadar vitamin D sebelum hormon paratiroid (PTH) naik (Mäkitaipale et al., 2020). Pada manusia hormon ini akan naik apabila terjadi defisiensi kalsium dan vitamin D. PTH akan merangsang tulang untuk melepaskan kalsium ke dalam peredaran darah dan meningkatkan absorpsi kalsium dari usus. Karena itu, kenaikan PTH sering dianggap sebagai tanda defisiensi vitamin D pada manusia. Namun, hubungan ini mungkin tidak sama persis di kelinci, mengingat kadar penyerapan kalsium kelinci tidak sebegitu bergantung pada vitamin D.

Dalam penelitian lain, diketahui bahwa rata-rata kelinci peliharaan di Finlandia memilik kadar vitamin D dalam darah 26 ng/ml, di atas ambang batas yang diketahui sebelumnya. Tidak ada perbedaan antara kelinci yang diberi akses keluar rumah maupun tidak. Dengan kata lain, paparan matahari tidak terlalu berpengaruh terhdap kadar vitamin D darah. Sebaliknya, banyaknya makanan (hay dan makanan komersial) lebih berpengaruh (Mäkitaipale et al., 2019). Yang mengejutkan, justru kadar vitamin D kelinci liar jauh berbeda dengan kelinci peliharaan. Kadar vitamin D darah mereka sangat rendah, dengan rata-rata hanya 3,3 ng/ml, jauh di bawah ambang batas 17 ng/ml (Mäkitaipale, Hietanen, et al., 2024).

designed by www.freepik.com

Temuan ini tentu memunculkan banyak pertanyaan, terlebih batas 17 ng/ml ini hanya ditentukan dari satu penelitian. Apakah sebenarnya kelinci tidak butuh vitamin D setinggi itu? Namun, perlu diingat juga bahwa kelinci liar memiliki kehidupan yang berbeda. Harapan hidup kelinci liar sangat singkat, hanya 70 hari saat kelinci baru lahir. Sangat jarang kelinci liar dapat bertahan hidup sampai 3 tahun karena kebanyakan akan mati karena penyakit, dimangsa hewan lain, atau kecelakaan. Sebaliknya, kelinci peliharaan biasa dapat bertahan hidup lebih dari 5 tahun. Karena itu, kelinci liar tidak bisa dianggap sebagai standar kelinci yang sehat. Selain itu, temuan ini juga kembali mengundang pertanyaan mengenai kemampuan kelinci membuat vitamin D sendiri secara cukup dengan kulitnya, mengingat kelinci liar harusnya mendapat paparan sinar UV yang lebih banyak.

Beberapa penelitian sebelumnya (Emerson et al., 2014; Molitor et al., 2023) menjawab ya, kelinci dapat membuat vitamin D sendiri dengan sinar UV B, secara cukup tapi penelitian yang lebih baru oleh grup Dr Mäkitaipale menemukan hal yang berbeda (Mäkitaipale, Opsomer, et al., 2024). Alih-alih memberi kelinci sinar UV B saja, mereka juga tertarik memberi sinar UV B pada hay yang dimakan kelinci. Hasilnya, kelinci yang makan hay yang diberi sinar UV B memiliki kadar vitamin D darah yang lebih tinggi daripada kelinci yang diberi sinar UV B langsung dan kelinci kontrol (tidak diberi sinar UV B dan hay dengan UV B). Kelinci yang diberi sinar UV langsung juga mengalami kenaikan kadar vitamin D, tetapi hasilnya tidak signifikan secara statistik dan angkanya lebih rendah dari kelompok yang diberi hay UV B. Temuan ini memperkuat teori bahwa kelinci lebih mengandalkan makanan sebagai sumber vitamin D daripada membuatnya sendiri dengan paparan sinar UV.

Perkembangan kadar vitamin D serum kelinci pada grup kontrol (hijau tua), grup kelinci yang diberi sinar UV B (oranye), dan grup kelinci yang diberi hay teriradiasi sinar UV B (hijau muda). Tanda (*) menandakan perbedaan signifikan secara statistik (Mäkitaipale, Opsomer, et al., 2024).

Tentu, masih banyak pertanyaan mengenai nutrisi kelinci, terutama seputar kalsium dan vitamin D, mengingat betapa uniknya metabolisme spesies ini. Namun, temuan-temuan di atas mungkin akan mengubah cara pandang dan praktik pemeliharaan dan nutrisi pada kelinci dalam waktu dekat.

Referensi

Eckermann-Ross, C. (2014). Small Nondomestic Felids in Veterinary Practice. Journal of Exotic Pet Medicine23(4), 327–336. https://doi.org/10.1053/j.jepm.2014.07.016

Emerson, J. A., Whittington, J. K., Allender, M. C., & Mitchell, M. A. (2014). Effects of ultraviolet radiation produced from artificial lights on serum 25-hydroxyvitamin D concentration in captive domestic rabbits (Oryctolagus cuniculi). American Journal of Veterinary Research75(4), 380–384. https://doi.org/10.2460/ajvr.75.4.380

Jekl, V., & Redrobe, S. (2013). Rabbit dental disease and calcium metabolism—The science behind divided opinions. Journal of Small Animal Practice54(9), 481–490. https://doi.org/10.1111/jsap.12124

Mäkitaipale, J., Hietanen, P., & Grönthal, T. (2024). Low 25-hydroxyvitamin D concentrations in wild rabbits (Oryctolagus cuniculus) in southern Finland. Acta Veterinaria Scandinavica66(1), 4. https://doi.org/10.1186/s13028-024-00726-0

Mäkitaipale, J., Opsomer, H., Steiner, R., Riond, B., Liesegang, A., Clauss, M., & Hatt, J.-M. (2024). Serum vitamin D concentrations in rabbits (Oryctolagus cuniculus) are more affected by UVB irradiation of food than irradiation of animals. The Veterinary Journal306, 106149. https://doi.org/10.1016/j.tvjl.2024.106149

Mäkitaipale, J., Sankari, S., Sievänen, H., & Laitinen-Vapaavuori, O. (2020). The relationship between serum 25-hydroxyvitamin D and parathyroid hormone concentration in assessing vitamin D deficiency in pet rabbits. BMC Veterinary Research16(1), 403. https://doi.org/10.1186/s12917-020-02599-7

Mäkitaipale, J., Sievänen, H., Sankari, S., & Laitinen-Vapaavuori, O. (2019). Diet is a main source of vitamin D in Finnish pet rabbits (Oryctolagus cuniculus). Journal of Animal Physiology and Animal Nutrition103(5), 1564–1570. https://doi.org/10.1111/jpn.13120

Molitor, L. E., Rockwell, K., Gould, A., & Mitchell, M. A. (2023). Effects of Short-Duration Artificial Ultraviolet B Exposure on 25-Hydroxyvitamin D3 Concentrations in Domestic Rabbits (Oryctolagus cuniculus). Animals13(8), 1307. https://doi.org/10.3390/ani13081307

Leave a comment