Kebanyakan pet food untuk anjing dan kucing menggunakan daging dan organ ayam, ikan, sapi, atau hewan bertulang belakang lain sebagai sumber protein hewani. Namun, ternyata saat ini ada sumber protein baru yang makin banyak digunakan: serangga. Di tahun 2022, ada setidaknya 43 merk pet food yang menggunakan serangga. Kebanyakan berasal dari Eropa. Pet food berbahan serangga sering diiklankan sebagai pet food yang lebih ramah lingkungan, tidak menyebabkan alergi, dan baik untuk kesehatan pencernaan dan kekebalan tubuh.1
Praktek memakan serangga atau entomofagi sudah sering dilakukan oleh banyak suku di dunia,2 termasuk di Indonesia. Bukan hanya manusia, tetapi kucing juga sudah lama mempraktikkan entomofagi. Dalam beberapa analisis mengenai komposisi makanan kucing liar, 1 sampai 2 persen seringkali ditemukan berasal dari serangga.3 Namun, fenomena ini lebih jarang ditemukan pada anjing dan serigala.4 Perbedaan ini mungkin terkait kebiasaan kucing yang lebih sering berburu hewan kecil, termasuk serangga, dibandingkan anjing dan serigala yang lebih sering berburu hewan besar dalam kelompok. Namun, pola makan anjing modern sangat dipengaruhi oleh pola makan manusia, karena dalam proses evolusinya, anjing sering berinteraksi dan makan sisa makanan manusia,5 sehingga tidak aneh juga kalau anjing mengonsumsi serangga.
Terlepas manfaat yang diklaim, sebagai fenomena baru, tentu banyak yang kita belum ketahui tentang penggunaan serangga dalam pet food. Penggunaan pet food berbahan serangga butuh banyak pertimbangan. Artikel ini akan membahas apa yang membuat kandungan nutrisi serangga berbeda, sementara manfaat dan risiko pet food berbahan serangga akan dibahas dalam artikel lain.
Kandungan nutrisi serangga tentu bergantung pada banyak faktor, termasuk spesies. Di antara jutaan spesies serangga, hanya larva 2 spesies yang sering digunakan dalam pet food saat ini, yaitu larva lalat Hermetia illucens atau black soldier fly (BSF; 83%) dan larva kumbang Tenebrio molitor atau yellow mealworm (14%) yang dikenal di Indonesia sebagai ulat hongkong.1 Kedua spesies ini sudah cukup dikenal di antara pemelihara hewan insektivora, seperti burung dan reptil. BSF juga sering digunakan dalam pengolahan sampah.
Selain spesies, berbagai faktor biotik dan abiotik terkait pemeliharaan serangga juga memengaruhi kualitas nutrisinya. Kandungan nutrisi serangga dapat dimanipulasi melalui makanan yang mereka konsumsi. Misalnya, jangkrik seringkali diberi makan vitamin dan kalsium sebelum diberikan pada reptil, praktik yang dikenal dengan istilah gut-loading6. Kandungan asam lemak serangga juga dapat diatur dengan mengatur pola pemberian pakan. Jika ingin mendapatkan serangga dengan kandungan omega-3 tinggi, minyak flaxseed yang tinggi asam lemak omega-3 dapat diberikan pada serangga.7
Suhu pemeliharaan adalah faktor pemeliharaan abiotik yang paling berperan dalam kandungan nutrisi serangga. Suhu tinggi akan menurunkan kandungan asam lemak serangga. Sebuah fenomena yang juga sering teramati adalah rendahnya kandungan vitamin D serangga karena kondisi pemeliharaan yang jarang terpapar sinar matahari. Paparan sinar matahari dapat merangsang produksi vitamin D serangga, sama seperti pada banyak hewan lainnya.7
Tidak jauh berbeda dari hewan lain, protein dan lemak merupakan komponen utama serangga.
Protein adalah komponen terbesar dari kebanyakan serangga. Rentang kadarnya bervariasi tergantung spesies, tetapi berkisar antara 35% (rayap) dan 65% (jangkrik dan belalang), dengan kandungan asam amino yang bervariasi juga. Beberapa spesies, termasuk BSF dan yellow mealworm, memiliki kandungan asam amino sulfur, metionin dan sistein, yang relatif rendah.8 Sebaliknya, ada spesies yang rendah triptofan dan lisin.9 Asam amino yang kadarnya rendah seringkali menjadi asam amino pembatas yang mengurangi kualitas protein, dan karenanya harus disuplementasi melalui bahan lain. Demikian pula, kecernaan protein dalam serangga bergantung pada spesies dan tahap hidupnya. Larva lebih mudah dicerna dibandingkan kepompong dan BSF serta yellow mealworm lebih mudah dicerna dibanding beberapa spesies kecoak.8
Komponen terbesar kedua dalam serangga adalah lemak. Sama seperti protein, kadarnya juga bervariasi tergantung spesies. Berkebalikan dengan protein, kadar lemak paling rendah ditemukan dalam jangkrik dan belalang (13%) dan paling banyak dalam keluarga rayap, kumbang, dan lalat (33%). Kebanyakan asam lemak tersebut adalah asam lemak jenuh asam palmitat (C16:0) dan asam stearat (C18:0).7 BSF juga diketahui kaya akan asam laurat (C12:0) yang diduga memiliki manfaat antimikrobial di usus. Namun, kadar asam lemak rantai panjang, termasuk asam lemak omega-6 asam arakhidonat yang diperlukan kucing, pada serangga sangat sedikit dibandingkan mamalia dan ikan,10 sehingga akan diperlukan tambahan dari sumber hewan lain. Serangga mengandung kolesterol yang didapat dari makanan mereka, tetapi mereka tidak membuat kolesterol sendiri. Karena itu, kadar kolesterolnya bergantung dari kadar kolesterol dalam makanan. Beberapa serangga seperti BSF mungkin malah tidak mengandung kolesterol.7 Perlu diketahui bahwa kolesterol tidak terlalu berpengaruh untuk anjing dan kucing karena kejadian aterosklerosis atau jantung koroner sangat jarang.
Kandungan mineral dalam serangga diduga dipengaruhi oleh makanan. Secara umum, serangga kaya akan Cu, Fe, Mg, Mn, P, dan Se, tetapi kadar K dan Ca-nya cenderung rendah.7 Rasio kalsium dan fosfor (Ca:P) serangga umumnya di bawah 1:0, utamanya karena mereka tidak punya tulang yang termineralisasi, sehingga diperlukan suplementasi kalsium jika menggunakan serangga sebagai bahan makanan.11
Tidak banyak informasi mengenai kandungan vitamin pada serangga dan kandungannya sangat bergantung pada spesies dan pemeliharaan serangga tersebut. Namun, kebanyakan serangga memiliki kadar vitamin A, D, dan E yang rendah. Beberapa serangga dapat mengubah karotenoid dari bahan tumbuhan menjadi vitamin A, tetapi proses ini hanya dapat terjadi pada serangga yang memiliki mata. Larva serangga, yang sering digunakan dalam pet food umumnya tidak memiliki mata sehingga tidak bisa membuat vitamin A.11
Satu keunikan serangga adalah keberadaan zat pelapis tubuh (exoskeleton) bernama khitin. Khitin tersusun atas karbohidrat n-asetilglukosamin dan bisa atau tidaknya dicerna bergantung pada keberadaan enzim khitinase dalam tubuh hewan yang memakan serangga.7 Beberapa hewan, seperti ayam, babi, dan landak diketahui memiliki khitinase, sehingga khitin dapat dipecah dan dicerna. Namun, anjing, dan mungkin juga kucing, tidak memiliki khitinase, sehingga khitin tidak akan dicerna dan berfungsi sebagai serat di usus besar.11 Karena kandungan nitrogen dalam khitin, beberapa teknik analisis nutrisi, termasuk analisis proksimat yang sering digunakan untuk analisis pet food, dapat menghitung khitin sebagai kandungan protein, sehingga hasil analisisnya menunjukkan kadar protein yang tidak akurat. Karena itu, analisis nutrisi pet food berbahan serangga harus memperhitungkan keberadaan khitin.
Referensi
1. Siddiqui, S. A. et al. Insect-based dog and cat food: A short investigative review on market, claims and consumer perception. Journal of Asia-Pacific Entomology 26, 102020 (2023).
2. José E. Aguilar, Rosy G. Cruz-Monterrosa, & Andrea M. Liceaga. Beyond Human Nutrition of Edible Insects : Health Benefits and Safety Aspects. Insects 13, 1–17 (2022).
3. Plantinga, E. A., Bosch, G. & Hendriks, W. H. Estimation of the dietary nutrient profile of free-roaming feral cats: possible implications for nutrition of domestic cats. British Journal of Nutrition 106, S35–S48 (2011).
4. Bosch, G., Hagen-Plantinga, E. A. & Hendriks, W. H. Dietary nutrient profiles of wild wolves: Insights for optimal dog nutrition? British Journal of Nutrition 113, S40–S54 (2015).
5. Ollivier, M. et al. Amy2B copy number variation reveals starch diet adaptations in ancient European dogs. Royal Society Open Science 3, (2016).
6. Finke, M. D. Gut loading to enhance the nutrient content of insects as food for reptiles: A mathematical approach. Zoo Biology 22, 147–162 (2003).
7. Huis, A. V., Rumpold, B. & Maya, C. Nutritional Qualities and Enhancement of Edible Insects. Annual Review of Nutrition 41, 551–76 (2021).
8. Bosch, G., Zhang, S., Oonincx, D. G. A. B. & Hendriks, W. H. Protein quality of insects as potential ingredients for dog and cat foods. Journal of Nutritional Science 3, 1–4 (2014).
9. Dobermann, D., Swift, J. A. & Field, L. M. Opportunities and hurdles of edible insects for food and feed. Nutrition Bulletin 42, 293–308 (2017).
10. Stanley, D. & Kim, Y. Why most insects have very low proportions of C20 polyunsaturated fatty acids: The oxidative stress hypothesis. Arch Insect Biochem Physiol e21622 (2019) doi:10.1002/arch.21622.
11. Modica, B. P. & Koutsos, E. A. Insectivore Nutrition – A Review of Current Knowledge. Veterinary Clinics of North America – Exotic Animal Practice (2023) doi:10.1016/j.cvex.2023.07.003.
