Sebelumnya, saya sudah membahas kandungan nutrisi serangga. Dari segi nutrisi, serangga tidak berbeda jauh dengan hewan lain dan sangat bisa digunakan sebagai bahan pembuatan pet food, meski tetap perlu ditambahkan berbagai bahan lain untuk menjamin nutrisinya lengkap dan seimbangNamun, ada banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam memasukkan serangga dalam pet food. Saya akan membahas faktor-faktor ini dari kacamata manfaat dan risiko penggunaan serangga yang seringkali disebutkan.

Apakah pet food berbahan serangga lebih hipoalergenik?

Ada sebagian anjing dan kucing yang menderita alergi, walau jumlahnya tidak banyak. Semakin sering suatu bahan digunakan, semakin besar risiko munculnya alergi makanan. Jadi, sudah tentu risiko alergi terhadap daging ayam dan ikan lebih besar dibandingkan serangga yang jarang digunakan. Namun, bukan berarti pet food serangga lantas sama dengan pet food hipoalergenik.

Pertama, sejauh ini jarang ada pet food serangga komersil yang hanya menggunakan serangga sebagai sumber protein, walaupun ada juga yang menggunakan serangga sebagai satu-satunya bahan hewani dalam konteks penelitian.1 Kebanyakan masih menggunakan campuran sumber protein lain, termasuk ayam dan ikan. Salah satu merk pet food serangga asal Indonesia juga masih menggunakan tepung unggas (poultry meal) sebagai salah satu bahan utamanya. Salah satu hambatan utama dalam penggunaan kadar serangga yang tinggi adalah palatabilitasnya. Palatabilitas atau daya suka adalah ukuran seberapa disukai serangga oleh hewan anjing atau kucing. Kebanyakan penelitian mengenai palatabilitas dilakukan secara internal oleh perusahaan dan tidak dipublikasikan.2 Namun, tampaknya, penggunaan serangga lebih dari 30% dari total berat kering sulit diterima oleh beberapa anjing dan kucing. Palatabilitas juga bergantung pada spesies serangga. Anjing sepertinya lebih suka larva black soldier fly (BSF), sementara kucing lebih menyukai yellow mealworm, tetapi perbedaan ini juga bisa karena perbedaan preferensi individu.2

Kedua, walaupun risikonya dianggap lebih kecil, serangga tidak bebas risiko alergi. Dalam satu penelitian, IgE anjing diketahui bereaksi terhadap beberapa protein serangga yellow mealworm, yang berarti ada kemungkinan reaksi silang alergi pada hewan yang alergi terhadap krustasea (udang-udangan) dan tungau rumahan. Artinya, anjing atau kucing yang alergi udang atau tungau punya kemungkinan alergi terhadap serangga dalam makanan. Salah satu alergen utama dalam serangga adalah tropomyosin, protein penyebab alergi pada kecoak dan kerang. Namun, perlu diketahui bahwa walaupun IgE berperan dalam reaksi alergi, anjing-anjing dalam penelitian tersebut tidak ada yang menunjukkan gejala alergi (gatal) secara klinis.3 Sejauh ini, belum ada laporan mengenai kasus alergi makanan serangga pada anjing dalam literatur ilmiah, tetapi sudah banyak laporan pada manusia.4

Ketiga, sama seperti makanan hipoalergenik lainnya, selalu ada kemungkinan kontaminasi silang alergen apabila peralatan untuk membuat pet food di pabrik digunakan untuk membuat pet food lain, bukan eksklusif untuk pet food serangga. Dalam konteks alergi, sisa protein alergen sedikit saja bisa memicu reaksi alergi. Ini harus diperhatikan oleh pihak produsen.

Secara garis besar, pet food berbahan serangga punya potensi menjadi makanan hipoalergenik sebagai novel protein, tetapi ini akan bergantung pada komposisi dan praktik produksinya.

Apakah makan serangga lebih baik untuk kesehatan?

Ada terlalu banyak parameter kesehatan, sehingga tidak ada satu jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Yang jelas, semua makanan yang diberikan pada anjing dan kucing harus lengkap dan seimbang nutrisinya, terlepas dari apa bahannya. Nutrisi serangga sudah dibahas dalam artikel sebelumnya. Secara umum, sebenarnya nutrisi serangga tidak lebih sehat dari daging, tetapi tidak juga sebaliknya.5

Selain dari segi formulasi, kelengkapan dan keseimbangan nutrisi seringkali diuji juga dengan feeding trial menurut protokol FEDIAF dan AAFCO, dua badan regulasi makanan hewan di Eropa dan Amerika. Feeding trial dilakukan dengan memberi makanan yang diuji secara eksklusif selama 6 bulan untuk mengevaluasi kesehatan fisik dan parameter darah hewan di akhir trial. Pet food yang sudah melalui feeding trial dapat mencantumkan keterangannya di label kemasan.

Ada penelitian di Korea6 dan Polandia7 yang mencoba mengevaluasi kandungan nutrisi dalam makanan hewan di negara masing-masing. Walaupun semua makanan yang dievaluasi menyatakan produknya lengkap dan seimbang, terdapat ketidaksesuaian kandungan nutrisi dengan ketentuan AAFCO dan FEDIAF. Pada penelitian di Korea, 7 dari 18 pet food mengalami ketidaksesuaian, di antaranya kekurangan mineral dan kelebihan rasio asam lemak omega 6 dan 3. Terdapat 2 makanan yang rasio kalsium dan fosfor (Ca:P)nya kurang dari 1:1 dan 4 yang justru melebihi batas rasio Ca:P 2:1. Masalah serupa ditemukan di Polandia, di mana kadar kalsium dalam 2 pet food kurang dari standar dan 12 pet food rasionya tidak memenuhi standar. Kedua penelitian ini menunjukkan perlunya perbaikan kontrol kualitas nutrisi pada makanan berbahan serangga komersil.

Sebelumnya, saya juga membahas dua perbedaan serangga dari sumber protein hewani lain, yaitu adanya khitin yang berpotensi sebagai prebiotik8 dan kandungan serangga yang lebih rendah kolesterol. Ada satu penelitian yang menyebutkan penggunaan serangga (kecoak) dalam pet food dapat menunjang kesehatan usus di level yang sama dengan makanan yang lengkap dan seimbang biasa.9 Namun, sejauh ini tidak diketahui apakah ada manfaat nyatanya pada anjing dan kucing dibanding makanan biasa.

Apakah pet food berbahan serangga lebih ramah lingkungan?

Serangga sering digadang-gadang sebagai solusi ramah lingkungan karena perannya dalam ekonomi sirkuler, suatu konsep di mana bahan yang dianggap sampah dapat didaur ulang; dalam hal ini sebagai makanan serangga.10,11 Serangga dianggap lebih ramah lingkungan karena memerlukan lahan dan makanan yang lebih sedikit, serta menghasilkan emisi karbon yang tidak sebanyak hewan besar. Sebagai makhluk poikilotermik (dulu sering disebut “berdarah dingin”), serangga memerlukan makanan yang relatif lebih sedikit dibanding ayam dan sapi. Proporsi tubuh mereka yang bisa dimakan juga lebih tinggi karena tidak ada tulang.2,11 Mereka juga dapat mengubah substrat yang kaya karbohidrat (70-90%) menjadi lebih seimbang dalam protein dan lemak. Namun, untuk keamanan, tidak semua substrat boleh digunakan sebagai makanan serangga. Di Eropa, meat bone meal (MBM) atau tepung daging tidak boleh digunakan untuk menghindari transmisi penyakit bovine spongioform encephalopathy atau sapi gila. Kotoran dan isi usus manusia maupun hewan serta sisa katering yang mengandung daging dan ikan juga tidak boleh digunakan.12

Dalam satu analisis daur hidup ‘life-cycle analysis’ (LCA), produksi larva BSF disebutkan 2 kali lebih berkelanjutan bagi lingkungan ‘sustainable’ daripada produksi daging ayam segar.13 Sebuah review menyebutkan produksi ayam memerlukan 2 sampai 3 kali lipat lahan dan 50% lebih banyak air dibandingkan produksi serangga. Sapi bahkan memerlukan 8 sampai 14 kali lahan. Selain menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah, serangga juga menghasilkan amonia yang lebih rendah karena kotoran mereka yang kering dan dihasilkan secara lambat.14

Namun, perhitungan ini didasarkan pada asumsi bahwa unggas dan sapi diternakkan secara spesifik untuk produksi pet food. Nyatanya, bahan hewani dalam pet food seringkali berasal dari produk sampingan ‘by-products’ yang sering tidak digunakan dalam suplai makanan manusia dan dianggap sampah, sehingga penggunaannya lebih ramah lingkungan.2 Di samping itu, klaim serangga lebih ramah lingkungan juga masih kontroversial. Ada data yang mengklaim produksi protein serangga BSF dan yellow mealworm justrumenghasilkan 2 sampai 3 kali lebih banyak emisi karbon dioksida. 2

Keamanan serangga dalam pet food

Keamanan adalah isu terpenting dalam semua bahan makanan. Selain risiko alergi yang sudah dibahas di atas, penggunaan serangga juga memiliki risiko bahaya biologis dan kimia.

Beberapa bakteri, termasuk Salmonella, Campylobacter, dan E. coli sudah ditemukan pada serangga. Bakteri ini diduga kuat berasal dari usus serangga, sehingga ada usulan memuasakan serangga sebelum dimatikan untuk diolah.15 Semestinya, proses pengolahan dengan pemanasan dapat membunuh sebagian besar serangga, kecuali beberapa bakteri pembentuk spora yang tahan panas, seperti Clostridium.16

Bahaya kimia yang dapat ditemukan pada serangga meliputi pestisida, logam berat, dan mikotoksin atau racun dari jamur. Serangga dengan daur hidup pendek memiliki risiko terjadinya bioakumulasi zat kimia yang lebih kecil.16 Kebanyakan zat kimia berasal dari substrat makanan serangga. Pestisida dan logam berat dapat berasal dari tumbuhan yang kemudian dimakan serangga. Timbal dan kadmium adalah logam berat yang paling banyak ditemui.17 Masih banyak informasi yang belum diketahui mengenai profil risikonya pada serangga,16 tetapi produsen pet food punya tanggung jawab memastikan keberadaannya di bawah batas yang dapat diterima dalam produk mereka.

Serangga dalam isu kesejahteraan hewan

Walaupun sentience dan kemampuan serangga merasakan sakit masih diperdebatkan, banyak yang beranggapan penggunaan serangga lebih baik untuk kesejahteraan hewan dibandingkan hewan seperti ayam atau sapi. Kemungkinan adanya kemampuan serangga untuk merasakan sakit dianggap cukup rendah; salah satunya karena fenomena di mana mereka tetap menggunakan kaki yang terputus untuk bertumpu.18 Meski begitu, serangga juga memiliki sistem saraf dan diketahui dapat mendapatkan informasi baru atau “belajar”.19 Karena itu, ada seruan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dan berjaga-jaga dalam berasumsi mengenai kemampuan serangga untuk menderita dan merasa sakit. Namun, kalaupun suatu saat serangga terbukti sentient, tentu perlakuan yang menghargai kesejahteraan serangga akan berbeda daripada hewan seperti ayam atau sapi. Sudah terdapat beberapa review ilmiah mengenai kesejahteraan serangga dalam konteks penggunaannya sebagai bahan makanan.18–20

Referensi

1.         El-Wahab, A. A., Wilke, V., Grone, R. & Visscher, C. Nutrient digestibility of a vegetarian diet with or without the supplementation of feather meal and either corn meal, fermented rye or rye and its effect on fecal quality in dogs. Animals 11, 1–12 (2021).

2.         Bosch, G. & Swanson, K. S. Effect of using insects as feed on animals: pet dogs and cats. Journal of Insects as Food and Feed 7, 1–12 (2021).

3.         Premrov Bajuk, B. et al. Insect protein-based diet as potential risk of allergy in dogs. Animals 11, (2021).

4.         Ribeiro, J. C., Sousa-Pinto, B., Fonseca, J., Fonseca, S. C. & Cunha, L. M. Edible insects and food safety: allergy. Journal of Insects as Food and Feed 7, 833–847 (2021).

5.         Payne, C. L. R., Scarborough, P., Rayner, M. & Nonaka, K. Are edible insects more or less ‘healthy’ than commonly consumed meats? A comparison using two nutrient profiling models developed to combat over- and undernutrition. European Journal of Clinical Nutrition 70, 285–291 (2016).

6.         Ryu, M.-O. et al. Proximate analysis and profiles of amino acids, fatty acids, and minerals in insect-based foods for dogs. ajvr 86, ajvr.24.08.0243 (2025).

7.         Jacuńska, W., Biel, W. & Zych, K. Evaluation of the Nutritional Value of Insect-Based Complete Pet Foods. Applied Sciences 14, 10258 (2024).

8.         Gasco, L., Finke, M. & van Huis, A. Can diets containing insects promote animal health? Journal of Insects as Food and Feed 4, 1–4 (2018).

9.         Jarett, J. K. et al. Diets with and without edible cricket support a similar level of diversity in the gut microbiome of dogs. PeerJ 7, e7661 (2019).

10.       Berggren, Å., Jansson, A. & Low, M. Approaching Ecological Sustainability in the Emerging Insects-as-Food Industry. Trends in Ecology and Evolution 34, 132–138 (2019).

11.       van Huis, A. & Oonincx, D. G. A. B. The environmental sustainability of insects as food and feed. A review. Agronomy for Sustainable Development 37, (2017).

12.       Pinotti, L. & Ottoboni, M. Substrate as insect feed for bio-mass production. Journal of Insects as Food and Feed 7, 585–596 (2021).

13.       Smetana, S., Schmitt, E. & Mathys, A. Sustainable use of Hermetia illucens insect biomass for feed and food: Attributional and consequential life cycle assessment. Resources, Conservation and Recycling144, 285–296 (2019).

14.       Valdés, F. et al. Insects as Feed for Companion and Exotic Pets : A Current Trend. Animals 1–26 (2022).

15.       Dobermann, D., Swift, J. A. & Field, L. M. Opportunities and hurdles of edible insects for food and feed. Nutrition Bulletin 42, 293–308 (2017).

16.       Committee, E. S. Risk profile related to production and consumption of insects as food and feed. EFSA Journal 13, (2015).

17.       José E. Aguilar, Rosy G. Cruz-Monterrosa, & Andrea M. Liceaga. Beyond Human Nutrition of Edible Insects : Health Benefits and Safety Aspects. Insects 13, 1–17 (2022).

18.       Adamo, S. A. Is it pain if it does not hurt? on the unlikelihood of insect pain. Canadian Entomologist695, 685–695 (2019).

19.       van Huis, A. Welfare of farmed insects. Journal of Insects as Food and Feed 7, 573–584 (2021).

20.       Pali-Schöll, I., Binder, R., Moens, Y., Polesny, F. & Monsó, S. Edible insects–defining knowledge gaps in biological and ethical considerations of entomophagy. Critical Reviews in Food Science and Nutrition59, 2760–2771 (2019).

Leave a comment