Gangguan ektoparasit adalah salah satu masalah yang paling sering dihadapi oleh anjing dan kucing. Sebenarnya diagnosisnya mudah, karena ektoparasit bisa tampak dengan mata telanjang. Pengobatannya pun tidak sulit, karena sebagian besar hanya perlu menggunakan obat tetes yang diberikan sebulan sekali. Namun, pengendalian ektoparasit ternyata tidak sesederhana itu. Mencegah serangan ektoparasit berulang memerlukan pengetahuan mengenai karakteristik parasit yang menyerang dan cara hidupnya. Walaupun semua ektoparasit sering disebut “kutu”, sebenarnya ada banyak jenis ektoparasit yang bisa menyerang hewan, dan kutu cuma salah satunya.

Kutu (Lice)

Kutu adalah anggota klade Phtiraptera. Mereka biasa dapat terlihat padarambut dan kulit anjing dan kucing sebagai makhluk kecil berwarna kuning coklat berukuran sekitar 2 mm. Berdasarkan cara makannya, kutu dapat dikategorikan sebagai pengisap (sucking lice) atau penggigit (chewing lice). Kebanyakan spesies kutu yang ada di tubuh anjing di Indonesia adalah Trichodectes canis, sedangkan di kucing Felicola subrostratus. Keduanya adalah kutu penggigit dan keduanya bisa menjadi inang pembawa cacing pita Dipylidium caninum. Ada juga spesies kutu pengisap Lignonathus setosus, kutu pengisap pada anjing yang lebih jarang ditemukan. Kutu memiliki spesifisitas inang yang tinggi. Artinya, kutu anjing jarang sekali berpindah dan menyerang kucing atau sebaliknya (tetap pernah ada laporan ditemukan Felicola subrostratus pada anjing di Indonesia; Colella et al., 2020). Karena itu, mereka juga tidak menular ke manusia dan hampir tidak berisiko zoonotik.

Gejala klinis utama yang muncul karena serangan kutu adalah gatal, yang ditunjukkan dengan menggaruk atau grooming berlebihan hingga mungkin menyebabkan luka dan kerak pada kulit. Rambut hewan juga mungkin terlihat kasar dan kering. Anemia dapat terjadi, tetapi lebih sering kalau kutu yang menyerang adalah jenis kutu pengisap, Lignonathus setosus pada anjing. Serangan kutu tidak begitu sering terjadi pada kucing. Dalam satu penelitian di Surabaya, hanya 12% kucing liar yang terinfestasi kutu (Fauziyah et al., 2020). Kucing berusia muda atau sakit lebih mungkin mengalami infestasi parah karena tidak bisa grooming.

Kutu anjing Trichodectes canis di bawah mikroskop (Adam Cuerden, Public domain, via Wikimedia Commons)
Kutu pada bulu anjing (Gabriela Pérez Tort dalam TroCCAP)

Pinjal (Flea)

Pinjal adalah ektoparasit yang paling banyak ditemui pada anjing dan kucing. Badan mereka berwarna coklat dan berbentuk pipih vertikal. Pinjal identik dengan kemampuannya melompat, baik dari hewan ke lingkungan atau hewan lain. Biar begitu, penularan pinjal dewasa dari satu hewan ke hewan lain sebenarnya sangat sedikit. Kebanyakan penularan terjadi karena pinjal yang baru dewasa melompat ke inang yang dia temui. Ini satu hal yang membuat mereka susah dibasmi. Selain membuat gatal karena gigitannya, pinjal juga dapat membawa cacing pita Dipylidium caninum dan parasit darah Mycoplasma haemofelis. Liurnya juga dapat menyebabkan alergi pada anjing dan kucing (flea allergy disease), sehingga rasa gatal jadi berkepanjangan. Pinjal juga dapat menularkan beberapa penyakit zoonotik pada manusia, meliputi bakteri Bartonella henselae (cat scratch disease), Rickettsia felisYersinia pestis (pes), dan cacing pita Dipylidium caninumHymenolepis diminuta, dan Hymenolepis nana.

Bentuk pinjal (By Andrei Savitsky – Own work, CC BY 4.0)
Infestasi pinjal pada anjing (Andrei D Mihalca dalam TroCCAP)

Berbeda dengan kutu, inang pinjal tidak terlalu spesifik. Artinya, pinjal kucing dapat berpindah ke anjing atau ke hewan lain. Malahan, pinjal kucing Ctenocephalides felis merupakan pinjal paling umum pada kucing maupun anjing, melampaui prevalensi pinjal anjing Ctenocephalides canis. Spesies lain seperti pinjal manusia Pulex irritans dan pinjal tikus Xenopsylla cheopis juga dapat menghinggapi kucing dan anjing.

Pinjal adalah pemakan darah. Pinjal betina dapat mulai bertelur 24 sampai 36 jam setelah memakan darah inang dan menghasilkan 40 sampai 50 telur per hari. Telur akan jatuh dari tubuh hewan dan menetas di lingkungan sekitar. Larva pinjal akan mengonsumsi bahan organik dan kotoran dari pinjal dewasa yang tersebar. Larva kelak akan menjadi kepompong selama hitungan 3 minggu sampai 6 bulan. Mereka akan keluar dari kepompong jika mendeteksi getaran atau panas dari calon inang. Tahapan hidup kepompong inilah yang paling sulit dibasmi karena tahan terhadap obat kutu. Secara keseluruhan, 95% hidup pinjal dihabiskan di lingkungan. Karena itu, membasmi pinjal dewasa saja tidak akan efektif dalam menghentikan siklus hidupnya. Pengendalian populasi pinjal perlu manajemen lingkungan dan pemberian obat kutu yang rutin dan tidak terputus selama beberapa bulan.

Caplak (Tick)

Ukuran normal caplak (By Alan R Walker – Own work, CC BY-SA 3.0)
Caplak setelah makan darah (By gailhampshire from Cradley, Malvern, U.K – Brown Dog Tick. Rhipicephalus sanguineus, CC BY 2.0)

Caplak merupakan ektoparasit yang paling besar dalam artikel ini. Tidak seperti pinjal dan kutu yang tergolong serangga (Insecta), mereka termasuk golongan Acari. Perbedaannya yang paling mencolok adalah mereka berkaki 8, tidak seperti serangga yang berkaki 6. Tubuh mereka dapat bertambah besar seiring banyaknya darah yang mereka hisap. Caplak sebenarnya identik dengan anjing, tetapi juga bisa menyerang kucing. Ada banyak jenis caplak di dunia, tetapi yang terdeteksi pada anjing dan kucing di Indonesia saat ini hanya Rhipicephalus sanguineus (brown dog tick). Dalam satu penelitian di Indonesia, mereka paling banyak ditemukan menempel pada punggung (35%), diikuti kepala dan leher (29%), sela-sela jari (14,5%), perut (11%) dan ekor (11%) (Hadi et al., 2016). Daur hidup mereka memerlukan 3 inang berbeda untuk tahapan larva, nimfa, dan dewasa, tetapi semuanya terjadi pada anjing. Seluruh tahapan ini memerlukan waktu 2 sampai 5 bulan.

Berbeda dengan kutu dan pinjal yang berjalan bahkan melompat bebas, caplak biasa melekat pada kulit dengan mulutnya yang disebut kelisera. Apakah caplak boleh dicabut? TroCCAP menyarankan untuk mencabut caplak yang terlihat, tetapi ini mungkin tidak dapat dilakukan jika caplak sudah terlalu banyak. Pemberian obat kutu yang dapat membunuh caplak akan membunuh caplak dan caplak akan gugur dengan sendirinya. Bekas gigitan caplak mungkin akan menunjukkan reaksi radang seperti kemerahan. Ada ketakutan bahwa ini disebabkan bagian mulut caplak yang tertinggal, tetapi sebenarnya ini adalah reaksi terhadap gigitan caplak itu sendiri.

Selain menyebabkan gatal dan anemia seperti ektoparasit lain, caplak terkenal sebagai pembawa berbagai penyakit tick-borne diseases. Pada anjing di Indonesia, sudah terdeteksi ada Ehrlichia canis, Babesia, dan Anaplasma (Hadi et al., 2016). Semuanya adalah bakteri yang hidup dalam sel darah putih (Ehrlichia dan Anaplasma) dan merah (Babesia). Parasit-parasit ini dapat menyebabkan kekurangan darah, terutama sel darah merah dan trombosit, yang berbahaya hingga mematikan. Biasanya, pemeriksaan di klinik dilakukan dengan test kit 4Dx menggunakan sampel darah. Namun, saya tidak akan membahas penyakit-penyakit ini di sini. Caplak R. sanguineus jarang menyerang manusia, tetapi pernah terjadi. Mereka juga bisa membawa infeksi Rickettsia pada manusia.

Daur hidup caplak R. sanguineus (sumber: CDC USA)

Tulisan ini akan berlanjut pada part 2 yang membahas tungau dan part 3 yang membahas obat kutu. Namun, baik kutu, pinjal, maupun caplak dapat dibasmi menggunakan obat kutu yang terpercaya, tetapi perlu dilihat juga apakah obat kutu tersebut memang bisa membunuh jenis tertentu. Misalnya, selamectin (Revolution) tidak bisa digunakan untuk membunuh caplak atau tungau Demodex. Tidak semua obat kutu yang dijual secara daring atau di pet shop memiliki keamanan dan efektivitas yang terjamin. Beberapa kasus keracunan dapat terjadi karena pemberian obat kutu ilegal. Karena itu, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter hewan sebelum memilih dan memberikan obat kutu.

Semua informasi bersumber dari TroCCAP Guidelines for the control of ectoparasites of dogs and cats in the tropics kecuali ada sitasi dari sumber lain.

Referensi

Colella, V., Nguyen, V. L., Tan, D. Y., Lu, N., Fang, F., Zhijuan, Y., Wang, J., Liu, X., Chen, X., Dong, J., Nurcahyo, W., Hadi, U. K., Venturina, V., Tong, K. B. Y., Tsai, Y.-L., Taweethavonsawat, P., Tiwananthagorn, S., Le, T. Q., Bui, K. L., … Halos, L. (2020). Zoonotic Vectorborne Pathogens and Ectoparasites of Dogs and Cats in Eastern and Southeast Asia. Emerging Infectious Diseases26(6), 1221–1233. https://doi.org/10.3201/eid2606.191832

Fauziyah, S., Furqoni, A. H., Fahmi, N. F., Pranoto, A., Baskara, P. G., Safitri, L. R., & Salma, Z. (2020). Ectoparasite Infestation among Stray Cats around Surabaya Traditional Market, Indonesia. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology5(3), 201. https://doi.org/10.22146/jtbb.53687

Hadi, U. K., & Soviana, S. (2015). Prevalence of Ticks and Tick-Borne Diseases in Indonesian Dogs. Journal of Veterinary Science & Technology07(03). https://doi.org/10.4172/2157-7579.1000330

TroCCAP. (2022). Guidelines for the Control of Ectoparasites of Dogs and Cats in the Tropic. TroCCAP.

Leave a comment