Sekarang, sudah banyak obat antiektoparasit atau obat kutu yang sangat mudah digunakan dan bertahan hingga hitungan bulan dengan sekali pemberian. Walaupun pengobatan kutu terkesan sederhana, tidak jarang ada kejadian kutu masih ada pada anjing atau kucing walaupun sudah diberi obat kutu. Ternyata, pengendalian kutu tidak sesederhana pemberian obatnya.
Di antara berbagai ektoparasit pada hewan, pinjal adalah ektoparasit paling umum dan paling sulit dibasmi karena daur hidupnya dan kemampuan bergerak (melompat)-nya yang lebih besar dari ektoparasit lain. Pinjal yang paling sering menyerang anjing dan kucing di seluruh dunia adalah pinjal kucing Ctenocephalides felis. Ada banyak faktor perlu diperhatikan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan pinjal. Meskipun resistansi – kejadian pinjal atau ektoparasit lain menjadi kebal terhadap obat kutu – bisa terjadi, kejadiannya cukup jarang, dan ada banyak faktor lain yang lebih penting untuk dikendalikan.
Daur hidup pinjal
Hanya pinjal dewasa yang hinggap di tubuh hewan. Selama di tubuh anjing atau kucing, pinjal dapat hidup hingga 21 hari. Mereka juga dapat melompat keluar dari tubuh inang hewan, tetapi tanpa inang, mereka hanya dapat hidup 3 sampai 5 hari. Walaupun dapat bergerak dengan cepat, sebenarnya pinjal hanya suka menetap di satu inang seumur hidupnya. Penularan dari satu hewan ke hewan lain terbilang jarang, hanya 4 persen dari seluruh penularan pinjal. Sebagian besar penularan justru terjadi dari lingkungan.

Pinjal dewasa adalah pemakan darah. Dalam kurun 36 jam setelah memakan darah, mereka dapat mulai bertelur dan menghasilkan 20 sampai 30 telur per hari. Telur akan jatuh dari tubuh hewan ke lingkungan, kemudian menetas di lingkungan. Larva pinjal menyukai lingkungan dengan suhu yang sedang dan kelembaban tinggi. Mereka akan makan dari bahan organik di lingkungan dan kotoran pinjal dewasa yang jatuh ke lantai. Setelah melewati 3 tahapan larva, larva akan menjadi kepompong. Kepompong adalah fase hidup pinjal yang paling sulit dibasmi karena tahan terhadap obat kutu. Ketika mereka mendeteksi adanya inang yang tepat, pinjal dewasa akan keluar dari kepompong dan mulai mencari inang hewan yang bisa dihinggapi. Pinjal dapat hidup dalam fase kepompong sampai 6 bulan jika dirasa belum menemukan inang yang sesuai.
Dari seluruh populasi pinjal, pinjal dewasa yang hidup di tubuh hewan hanya 1 sampai 5 persennya. Hampir 95 persen pinjal belum dewasa dan hidup di lingkungan. Karena itu, membunuh pinjal dewasa satu kali tidaklah cukup. Kita harus juga mencegah infestasi berikut-berikutnya dari pinjal di lingkungan. Pembasmian pinjal akan memerluka waktu berbulan-bulan untuk memastikan seluruh daur hidupnya sudah dihabisi.
Pinjal dari luar rumah
Dengan banyaknya kucing dan anjing yang berkeliaran di luar, baik yang liar ataupun berpemilik, bukan hal mengejutkan bahwa ada banyak pinjal lingkungan. Ketika anjing atau kucing yang tidak diberi obat kutu keluar rumah, pinjal dapat dengan mudah menghinggapi mereka dan membuat koloni baru.
Kucing dan anjing outdoor memang memiliki risiko lebih rendah untuk terinfestasi pinjal, tetapi mereka juga tetap tidak kebal pinjal. Peliharaan tetangga dan hewan liar mungkin singgah ke lingkungan sekitar rumah dan meninggalkan telur pinjal. Bukan kucing dan anjing saja; hewan seperti burung dan tikus, bahkan manusia, juga bisa membawa pinjal yang menular ke anjing dan kucing, walau berbeda spesies, karena pinjal tidak pilih-pilih inang. Ketika menetas dan dewasa, pinjal tersebut akan melompat ke inang terdekat.
Praktik pemberian obat kutu yang kurang tepat
Pemberian obat kutu adalah faktor terpenting dalam membasmi populasi pinjal. Pemberian obat kutu saja tidak cukup, tapi cara pemberiannya juga harus tepat. Pertama, obat kutu apa yang digunakan? Ada banyak obat kutu hewan yang beredar di pasaran, tetapi tidak semua aman dan efektif. Penggunaan obat kutu yang tidak berizin resmi bahkan dapat menyebabkan keracunan. Sebaiknya, pilihan obat kutu dikonsultasikan dulu dengan dokter hewan. Selain untuk keamanan, tiap obat kutu mungkin berbeda dalam hal dosis, spesies parasit yang dilindungi, dan frekuensi pemberian. Beberapa obat kutu kucing yang berizin resmi adalah Revolution (selamectin), Advocate (imidacloprid dan moxidectin), Nexgard (afoxolaner), Frontline (Fipronil), dan Bravecto (Fluralaner).

Kedua, apakah interval pemberian sudah tepat? Kebanyakan obat kutu dapat melindungi hewan selama sebulan, kecuali Bravecto yang tahan hingga 3 bulan. Setelah masa perlindungannya habis, pemberian obat kutu harus diulang. Kalau tidak, hewan menjadi tidak terlindungi dan pinjal dari lingkungan yang baru dewasa bisa kembali datang, sehingga siklus pengobatan akan berulang lagi.
Ketiga, apakah semua anjing dan kucing di rumah sudah diberi obat kutu? Jika satu hewan di rumah sudah terinfestasi pinjal, semua hewan lain juga berpotensi terinfestasi pinjal, walau tidak terlihat langsung. Pengobatan hanya satu hewan di rumah akan sia-sia dalam mengendalikan populasi pinjal, karena toh masih ada inang lain yang rentan.
Keempat, apakah dosis dan cara pemberian obat kutu sudah benar? Kebanyakan obat kutu dikelompokkan berdasarkan berat badan. Jika hewan diberi obat kutu untuk berat di bawahnya, obat tersebut mungkin tidak efektif karena dosisnya kurang. Sebagian besar obat kutu diberikan dengan tetes di kulit tengkuk atau makan. Jika obat malah diteteskan di rambut, atau tidak termakan seluruhnya, obat juga akan jadi tidak efektif. Untuk rumah dengan lebih dari satu hewan, jika menggunakan obat kutu tetes, penting juga untuk memisahkan hewan agar tidak saling jilat sampai obat yang ditetes kering.
Bagaimana dengan suntik obat kutu? Kegiatan suntik menyuntik hanya dapat dilakukan oleh dokter hewan atau dengan pengawasan dokter hewan. Jika dokter hewan yang menangani seekor hewan memutuskan untuk menggunakan obat suntik, tentu sudah ada pertimbangan dan perhitungan dosisnya. Memang ada obat kutu suntik, tetapi efektivitasnya tidak lebih baik dari obat tetes dan karena dosisnya yang sangat kecil, keamanannya tidak sebaik obat tetes. Jadi, anggapan obat suntik lebih ampuh itu tidak benar.

Karakteristik produk
Kerja obat kutu bisa digolongkan menjadi dua: yang tidak diserap dan menyebar melalui kulit atau diserap melalui pembuluh darah. Obat kutu yang menyebar melalui kulit dapat menangkal kutu hanya dengan kontak, sedangkan yang diserap dalam darah harus dimakan dulu oleh kutu untuk membunuh kutu. Obat kutu yang menyebar melalui kulit dapat cepat hilang jika hewan dimandikan, kebasahan, atau karena faktor lingkungan, sedangkan obat yang menyebar dalam darah tidak dipengaruhi hal-hal tersebut. Perhatikan panduan produk untuk tahu kapan hewan boleh dimandikan, boleh kena air atau tidak, dan sebagainya. Namun, saat ini kebanyakan obat kutu yang baru sudah menggunakan obat yang menyebar melalui darah.
Resistansi: Haruskah kita takut?
Setelah memastikan faktor-faktor lain terkendali, baru kita dapat mempertimbangkan resistansi sebagai penyebab kegagalan pengobatan. Resistansi obat kutu memang dapat dan sudah terjadi, tetapi kejadiannya masih sangat jarang. Bahkan, sejauh ini belum ada laporan resistansi ektoparasit anjing dan kucing terhadap obat-obat yang baru seperti selamectin (Revolution), imidacloprid (Advocate), dan golongan isoxazoline (Nexgard, Bravecto, Simparica). Resistansi ektoparasit sudah dilaporkan pada ivermectin (obat suntik), fipronil (Frontline), dan golongan piretroid (sering digunakan di anjing tetapi berbahaya untuk kucing). Saya pun beberapa kali menemukan kasus skabies pada kelinci yang tidak mempan diberi ivermectin, walau saya tidak bisa memastikan kegagalan tersebut memang karena tungau skabiesnya resisten. Selain tungau, caplak juga sering disebut-sebut sebagai ektoparasit yang mendapat resistansi terhadap ektoparasit. Caplak lebih sering menyerang anjing daripada kucing.
Resistansi dapat terjadi karena mutasi genetik pada parasit yang membuat obat tidak lagi mempan untuk membunuh mereka. Mutasi yang paling sering terjadi adalah mengubah reseptor obat sehingga tidak lagi mengikat obat kutu, serta mutasi sistem enzim sehingga obat kutu dapat dibuang dengan cepat dari tubuh parasit. Dengan pemberian obat kutu, populasi ektoparasit yang tidak resisten akan mati, sementara yang resisten tetap hidup dan berkembang biak. Lama kelamaan, populasi ektoparasit yang resisten akan menjadi banyak dan sulit untuk dibunuh, sehingga harus menggunakan obat kutu lain.
Sejauh ini, resistansi obat kutu belum menjadi ancaman serius, dengan belum adanya laporan resistansi terhadap obat kutu yang kini sering digunakan. Kerja obat kutu yang cepat sehingga membunuh parasit sebelum sempat bertelur, serta sinergi dari beberapa jenis obat pada beberapa produk membuat risiko terjadinya resistansi cukup rendah. Namun, beberapa produsen obat kutu juga menyarankan rotasi obat kutu tiap 3 bulan sebagai langkah pencegahan. Langkah ini boleh diikuti atau tidak, tetapi yang lebih penting adalah memastikan hewan terlindungi dengan pemberian obat kutu tanpa putus agar hewan terlindungi sepanjang tahun. Jika ada kecurigaan resistansi, hal ini dapat didiskusikan dengan dokter hewan dan dilaporkan ke distributor obat kutu terkait untuk diselidiki.
Referensi
Becker, S., Webster, A., Doyle, R. L., Martins, J. R., Reck, J., & Klafke, G. M. (2019). Resistance to deltamethrin, fipronil and ivermectin in the brown dog tick, Rhipicephalus sanguineus sensu stricto, Latreille (Acari: Ixodidae). Ticks and Tick-Borne Diseases, 10(5), 1046–1050. https://doi.org/10.1016/j.ttbdis.2019.05.015
Coles, T. B., & Dryden, M. W. (2014). Insecticide/acaricide resistance in fleas and ticks infesting dogs and cats. Parasites and Vectors, 7(1), 1–10. https://doi.org/10.1186/1756-3305-7-8
Halos, L., Beugnet, F., Cardoso, L., Farkas, R., Franc, M., Guillot, J., Pfister, K., & Wall, R. (2014). Flea control failure? Myths and realities. Trends in Parasitology, 30(5), 228–233. https://doi.org/10.1016/j.pt.2014.02.007
Rust, M. (2016). Insecticide Resistance in Fleas. Insects, 7(1), 10. https://doi.org/10.3390/insects7010010
Terada, Y., Murayama, N., Ikemura, H., Morita, T., & Nagata, M. (2010). Sarcoptes scabiei var. Canisrefractory to ivermectin treatment in two dogs. Veterinary Dermatology, 21(6), 608–612. https://doi.org/10.1111/j.1365-3164.2010.00895.x
Tian, Y., Taylor, C. E., Lord, C. C., & Kaufman, P. E. (2023). Evidence of Permethrin Resistance and Fipronil Tolerance in Rhipicephalus sanguineus s.l. (Acari: Ixodidae) Populations From Florida and California. Journal of Medical Entomology, 60(2), 412–416. https://doi.org/10.1093/jme/tjac185
