Flu adalah salah satu keluhan paling umum di klinik hewan. Kebanyakan kucing yang kena flu akan sembuh dengan atau bahkan tanpa diobati, tetapi ada sebagian kecil kucing yang terus-terusan mengeluarkan ingus walau sudah bolak-balik ke dokter hewan. Beberapa kucing mungkin membaik saat diobati, tapi begitu berhenti makan obat, flunya kembali. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan ini, baik yang dapat diatasi maupun tidak. Saya akan membahas beberapa di antaranya. Namun, perlu diketahui bahwa sebagian besar kucing yang tidak sembuh-sembuh ini, atau sering disebut “chronic snuffler”, mungkin tidak dapat sembuh sama sekali, walau ditangani dokter hewan spesialis kucing terbaik di dunia (dan saya mendengar ini dari nama-nama besar di kedokteran kucing).

Flu yang menahun bisa dikenali dengan istilah yang lebih ilmiah: rhinitis atau rhinosinusitis kronis, yang berarti peradangan pada rongga hidung yang berlangsung lama. Kronis artinya berlangsung lama, lebih dari 4 minggu, dan lawan katanya adalah akut. Kondisi ini dapat terjadi pada kucing segala usia dan ditandai dengan bersin, napas yang berbunyi, leleran hidung berwarna bening, kuning, hijau, bahkan berdarah, dan kadang disertai kurangnya nafsu makan.

Secara umum, ada 3 kategori sebab seekor kucing mengalami flu kronis: infeksi, kelainan anatomis, atau alergi. Beberapa penyebab ini memiliki ciri khas yang mungkin dapat dilihat saat pemeriksaan fisik, tetapi sebagian besar akan memerlukan pemeriksaan lanjutan dengan berbagai alat diagnostik untuk konfirmasi.

Infeksi virus

Infeksi virus, spesifiknya feline herpesvirus-1 (FHV) adalah penyebab utama dan tersering seekor kucing tidak sembuh-sembuh dari flu. Virus ini sangat umum dan karena sangat umumnya, seekor kucing bisa tertular semasa masi kecil, sebelum sempat divaksin. Pada kucing dewasa yang imunitasnya bagus, FHV-1 biasanya dapat sembuh sendiri. Namun, serangan FHV-1 di saat kucing masih terlalu kecil dapat merusak struktur tulang wajah (osteomyelitis), khususnya tulang-tulang turbinatio pada rongga hidung. Ditambah lagi, virus ini seringkali mengundang infeksi sekunder oleh bakteri, misalnya bakteri dari mulut dan faring, yang memperparah peradangan dan kerusakan. Kerusakan pada tulang wajah bersifat permanen dan akan terbawa sampai kucing dewasa, mengakibatkan infeksi pernapasan lebih mudah terjadi di masa depan. Kucing dengan anatomi tertentu, seperti kucing Persia yang pesek, lebih banyak terdampak kondisi ini. Selain itu, virus FHV-1 akan menetap pada saraf trigeminal di wajah, dan dapat sewaktu-waktu bangun kembali dan memperparah kerusakan.

Bagaimana virus menyebabkan flu kronis (sumber: Scherk 2010)

Selain FHV-1, virus lain yang sering menyebabkan flu pada kucing adalah feline calicivirus (FCV). Selain menyebabkan flu, FCV dapat menyebabkan sariawan pada mulut, peradangan sendi, dan kerusakan kulit pada paw, tergantung jenis yang menginfeksi. Virus ini juga akan menetap secara laten pada 80% kucing dan dapat bangkit sewaktu-waktu jika kucing stres atau sakit.

Retrovirus feline immunodeficiency virus (FIV) dan feline leukemia virus (FeLV) yang serumpun dengan HIV pada manusia dan sering disebut menyebabkan AIDS kucing juga sering disebut-sebut sebagai penyebab flu yang tidak sembuh-sembuh. Mereka sendiri tidak menyebabkan gejala flu, tapi karena sifatnya yang melumpuhkan sistem imun, masuk akal jika keberadaan mereka dicurigai apabila kucing terus terkena infeksi pernapasan. Namun, sejauh ini tidak ada data yang membuktikan adanya peningkatan keberadaan FIV dan FeLV pada kucing dengan flu kronis. Perlu diingat bahwa ini berdasarkan data di negara maju, di mana vaksinasi FeLV sudah cukup umum. Data di Indonesia (yang sayangnya tidak ada) mungkin tidak serupa.

Infeksi bakteri

Infeksi bakteri jarang menjadi penyebab utama flu. Biasanya, mereka adalah penumpang gelap dari penyebab lain, seperti infeksi virus, yang kemudian memudahkan bakteri menginfeksi. Pada kasus flu kronis karena FHV-1, kucing mungkin membaik jika diobati dengan antibiotik, tetapi kembali flu jika antibiotik dihentikan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada peran bakteri dalam flu yang tidak sembuh-sembuh, tapi bakteri bukan satu-satunya masalah.

Beberapa spesies bakteri yang sering ditemukan dan diduga merupakan agen penyakit pada kasus flu kucing adalah Bordetella bronchiseptica, Mycoplasma spp., dan Chlamydophila felis. Bakteri-bakteri ini sulit ditumbuhkan dengan kultur bakteri biasa, sehingga memerlukan teknik khusus atau pemeriksaan molekuler (PCR). Ada beberapa bakteri lain yang sering ditemukan dalam pemeriksaan mikrobiologis saluran pernapasan, tapi sulit memastikan mereka betul-betul penyebab penyakit, atau cuma bakteri yang numpang lewat. Pemilihan antibiotik sebaiknya didasarkan pada spesies bakteri yang memungkinkan. Misalnya, Mycoplasma tidak mempan jika diberi antibiotik beta-laktam karena tidak punya dinding sel.

Ada ahli yang menyarankan mencoba mengobati kerusakan tulang (osteomyelitis) penyebab flu dengan antibiotik jangka panjang (6-8 minggu). Namun, kebanyakan ahli menganggap kerusakan tulang bersifat permanen dan tidak dapat disembuhkan.

Infeksi fungi

Infeksi fungi masih jarang ditemui di Indonesia, entah karena memang belum ada atau belum terdiagnosis, tapi prevalensinya secara umum memang rendah. Spesies fungi yang paling banyak menyerang kucing dan menyebabkan flu adalah Cryptococcus neoformans. Namun, gejalanya biasa lebih parah daripada flu biasa oleh virus dan bakteri. Infeksi Cryptococcus dapat menyebabkan leleran hidung dengan mimisan dan kebengkakan wajah, bahkan disertai luka pada kulit. Leleran lebih sering keluar dari satu lubang hidung daripada keduanya. Fungi ini juga menyebabkan kerusakan pada tulang wajah.

Sel makrofag berisi spora Sporothrix sp. (dok pribadi)
Gambaran klinis Sporothricosis pada mata kucing (dok pribadi)

Namun, saat berada di negara tetangga, saya pernah menjumpai satu kasus flu disertai sakit mata yang disebabkan organisme fungus Sporothrix sp. pada kucing domestic shorthair. Hla ini tidak biasa karena biasanya Sporothrix sp. menyebabkan luka yang tidak sembuh-sembuh pada kulit, jarang menyebabkan flu dan sakit mata. Kucing ini senantiasa sulit bernapas dan mengeluarkan leleran bening hingga berdarah dari hidungnya. Sebelumnya, kucing ini sudah pernah diobati dengan antibiotik tapi tidak menunjukkan perbaikan. Yang unik, ada sejenis massa berwarna pink di sklera mata dan di lubang hidung kucing ini, yang membuat saya tertarik melakukan pemeriksaan sitologis dan menemukan Sporothrix. Karena Sporothrix termasuk dalam golongan fungi, pengobatan dilakukan dengan obat antifungal.

Polip

Keberadaan polip pada nasofaring (bagian belakang hidung) dapat mengganggu pernapasan dan menyebabkan gejala flu. Polip tumbuh dari telinga bagian tengah, tapi dapat menyebabkan flu karena ada saluran Eustachius yang menghubungkan telinga dan hidung. Polip lebih sering menyerang kucing muda, walau dapat menyerang semua usia kucing. Selain menyebabkan gejala flu biasa, polip juga dapat menyebabkan disfagia atau kesusahan makan dan menelan dan perubahan suara. Polip juga dapat menyebabkan gejala saraf, terutama jika meluas sampai ke telinga bagian dalam.

Polip pada orofaring kucing (sumber: Reed & Gunn-Moore 2012)

Pemeriksaan polip mungkin mengharuskan kucing disedasi atau dibius untuk melakukan pemeriksaan di area mulut dan melihat nasofaring secara jelas. Selain itu, mungkin dilakukan otoskopi dan pengambilan gambar x-ray. Pengobatan bisa dilakukan dengan pencabutan polip, tetapi kekambuhan dapat terjadi. Opsi lain apabila ada masalah juga pada telinga bagian tengah dan dalam adalah operasi ventral bulla osteotomy.

Fistula oronasal

Terkadang, kerusakan gigi dan mulut dapat menyebabkan jaringan penyokong rusak sampai terjadi lubang antara rongga hidung dan mulut. Kondisi ini dapat menyebabkan sinusitis kronis karena makanan dan bakteri dari rongga mulut masuk ke rongga hidung. Pemeriksaan keberadaan fistula oronasal memerlukan pembiusan dan probing pada gusi kucing. Fistula atau lubang harus ditutup, tetapi biasa memerlukan dokter hewan dengan keahlian khusus pada kedokteran gigi hewan.

Pemeriksaan gigi kucing menggunakan dental probe (dok pribadi)

Benda asing

Terkadang, benda asing dapat masuk ke mulut atau hidung kucing dan menyebabkan gejala flu. Pada kucing outdoor, benda dari tanaman seperti rumput sering jadi pelakunya. Selain itu, benda asing juga bisa berasal dari kucing itu sendiri. Pernah ada kasus hairball tersangkut di nasofaring kucing karena gagal dimuntahkan.

Jike benda asing cenderung berada di depan, kucing akan menunjukkan gejala leleran hidung. Jika lebih ke belakanh, kucing akan menunjukkan gejala ingin muntah dan bersuara saat bernapas. Kalau sudah berlangsung lama, kucing mungkin mengalami bau mulut dan leleran dapat berubah warna menjadi hijau kuning karena infeksi.

Tumor atau Neoplasia

Tumor merupakan salah satu penyebab rhinosinusitis yang cukup umum pada hewan tua. Keberadaan tumor mengganggu anatomi saluran pernapasan, sehingga menyebabkan gejala flu. Pada pemeriksaan fisik, flu yang terjadi karena tumor seringkali menyebabkan wajah tampak asimetris dan leleran mungkin keluar dari satu lubang hidung saja, serta wajah mungkin merasa sakit jika disentuh. Tentu, pemeriksaan fisik tidak cukup untuk mendiagnosis tumor. Perlu berbagai pemeriksaan penunjang, meliputi x-ray untuk melihat struktur tulang, endoskopi/rhinoskopi untuk melihat dalam rongga hidung, dan biopsi/histopatologi untuk menentukan apakah massa yang ditemukan merupakan tumor dan apa jenisnya. Tumor yang paling banyak ditemui di rongga hidung adalah limfoma, diikuti adenokarsinoma dan squamous cell carcinoma. Pengobatan biasa dilakukan dengan kemoterapi atau radiasi, tetapi respon akan sangat bergantung pada tiap individu kucing.

Alergi

Saya pernah membahas mengenai asthma pada kucing di artikel lain.

Referensi

Reed, N. (2020). Chronic Rhinitis in the Cat. Veterinary Clinics of North America: Small Animal Practice50(2), 311–329. https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2019.10.005

Reed, N., & Gunn-Moore, D. (2012a). Nasopharyngeal Disease in Cats: 1. Diagnostic investigation. Journal of Feline Medicine and Surgery14(5), 306–315. https://doi.org/10.1177/1098612X12444997

Reed, N., & Gunn-Moore, D. (2012b). Nasopharyngeal Disease in Cats: 2. Specific conditions and their management. Journal of Feline Medicine and Surgery14(5), 317–326. https://doi.org/10.1177/1098612X12444998

Scherk, M. (2010). Snots and Snuffles: Rational Approach to Chronic Feline Upper Respiratory Syndromes. Journal of Feline Medicine and Surgery12(7), 548–557. https://doi.org/10.1016/j.jfms.2010.05.006

Leave a comment