Vaksin anjing dan kucing umumnya terdiri dari satu vial berisi vaksin cair atau dua vial berisi vaksin yang berupa serbuk dan pelarutnya. Dokter hewan akan mengambil pelarut menggunakan alat suntik berupa syringe dan jarum, lalu mencampurkannya ke dalam vial berisi vaksin, kemudian mengambil kembali vaksin yang kini berupa larutan ke dalam alat suntik.

Ada suatu praktek umum untuk menukar jarum yang digunakan untuk mengambil larutan vaksin dengan jarum baru sebelum menyuntikkan vaksin ke anjing dan kucing. Alasan utama praktik ini adalah kepercayaan bahwa proses pencampuran dan pengambilan cairan vaksin, saat jarum suntik harus menusuk tutup karet vial vaksin, dapat menumpulkan jarum dan membuat proses penyuntikkan pada hewan lebih terasa menyakitkan. Praktik ini didukung oleh Fear Free, sebuah lembaga sertifikasi yang mempromosikan praktik kedokteran hewan yang bebas dari rasa takut, cemas, dan stres.

Jarum suntik memang untuk sekali pakai, dan sudah banyak penelitian yang mencoba membuktikan bahwa pemakaian ulang jarum suntik pada hewan dan manusia dapat membuat jarum menjadi tumpul dan membutuhkan tenaga lebih besar untuk disuntikkan, sehingga berpotensi meningkatkan rasa sakit ketika digunakan.1–4. Selain itu, penggunaan jarum suntik secara berulang dikhawatirkan dapat menyebabkan infeksi karena jarum yang digunakan ulang sudah tidak steril. Atas dasar kesejahteraan hewan, penggunaan ulang jarum suntik, utamanya dalam konteks hewan penelitian, tidak didukung oleh NC3RS. Namun, konteks penggunaan di mana jarum suntik berulang kali disuntikkan ke kulit tidak bisa lantas disamakan dengan penggunaan jarum suntik untuk mengambil obat melalui tutup vial karet. Keduanya memiliki sifat material yang berbeda dan tutup karet umumnya lebih tipis daripada kulit anjing atau kucing.

Vaksin kucing Nobivac Tricat Trio berisi serbuk vaksin freeze-dried dan pelarut (sumber: https://www.msd-animal-health.co.in/products/nobivac-tricat-trio/)

Sebuah penelitian yang baru terbit di Journal of American Veterinary Medical Association (JAVMA) mencoba menjawab dua pertanyaan terkait fenomena ini: berapa banyak dokter hewan yang menukar jarum ketika menyuntuk vaksin, dan apakah benar penggunaan jarum untuk mengambil larutan vaksin membuat jarum lebih tumpul.5

Berdasarkan survei yang mereka sebar di Facebook, 76% dokter hewan menukar jarum sebelum menyuntikkan vaksin, dan 98% di antaranya menyebut kekhawatiran jarum menjadi tumpul sebagai alasan utama.

Mereka menggunakan jarum dari 3 merk dan 4 ukuran berbeda (20, 22, 25, dan 29 G) dalam penelitian ini. Semakin kecil ukuran jarum, semakin kecil pula gaya yang dibutuhkan untuk menyuntik. Hal ini wajar terjadi karena semakin kecil luas permukaan jarum, semakin besar tekanan yang timbul, sehingga semakin mudah untuk menembus kulit, atau dalam penelitian ini, tutup karet. Terdapat tren meningkatnya gaya yang dibutuhkan untuk jarum suntik menembus tutup vial seiring dekat bertambahnya penggunaan, dengan perbedaan nyata antara penggunaan 0 kali dan 2 kali (18%), tetapi secara klinis, perbedaan ini mungkin tidak banyak berarti karena tidak jauh berbeda dengan perbedaan gaya yang dibutuhkan antar merk jarum (sekitar 10%). Justru, perbedaan lebih besar dapat diamati antar ukuran jarum (56% antara jarum 20G dan 29G).

Grafik perubahan gaya yang dibutuhkan untuk menyuntik seiring banyaknya penusukan pada berbagai ukuran jarum suntik (5)

Selain mengamati gaya yang dibutuhkan untuk menyuntik, mereka juga mengamati kerusakan yang mungkin timbul setelah penyuntikan menggunakan mikroskop 3 dimensi. Terdapat 40% dan 52% jarum yang mengalami kecacatan setelah penyuntikan 1 dan 2 kali, secara berturut-turut. Namun, seperti dibahas sebelumnya, perubahan ini tidak bergitu berdampak besar pada ketumpulan jarum.

Tentu penelitian ini bukan tanpa kekurangan. Misalnya, pengukuran gaya yang dibutuhkan belum tentu sama dengan mengukur rasa sakit yang dialami hewan. Selain itu, jarum yang mengalami kebengkokan saat ditusuk juga tidak diperhitungkan, sehingga mungkin mengubah hasil akhir.

Sebelum ini, ada penelitian yang mirip, tetapi dilakukan dalam konteks berbeda, yaitu penggunaan jarum suntik untuk mengambil insulin pada pasien manusia dengan diabetes.6 Mereka tidak menemukan perbedaan nyata pada besarnya gaya yang dibutuhkan untuk menusuk tutup karet vial sebelum maupun sesudah jarum suntik digunakan (41,5 vs 42,0 g). Pengamatan ujung jarum menggunakan mikroskop juga tidak menemukan kerusakan seperti kebengkokan. Namun, mereka menemukan bahwa beberapa jarum baru memang sudah tidak sempurna dari pabriknya, dan hal ini harus dibedakan dari kerusakan akibat penyuntikan.

Perlu diketahui juga bahwa praktik mengganti jarum bukan tanpa risiko. Cedera karena tertusuk jarum adalah salah satu risiko paling umum yang dihadapi pekerjaan dokter hewan dan profesional veteriner lainnya.7–9 Selain itu, praktik ini juga dianggap kurang ramah lingkungan dengan memperparah masalah banyaknya limbah medis.10 Dengan temuan baru ini, mungkin kita perlu mengevaluasi kembali perlunya mengganti jarum ketika menyuntikkan vaksin.

Cover image designed by Freepik.

Referensi

1.         Guterres, C. et al. Reuse of disposable syringes and needles in patients with type 2 diabetes. Diabetol Metab Syndr 7, A189 (2015).

2.         Majcher, K. et al. Assessing the sharpness of hypodermic needles after repeated use. Canadian Veterinary Journal 59, 1112–1114 (2018).

3.         Owen, K., Blackie, N. & Gibson, T. J. The Effect of Needle Reuse on Piglet Skin Puncture Force. Veterinary Sciences 9, 90 (2022).

4.         Zabaleta-del-Olmo, E. et al. Safety of the reuse of needles for subcutaneous insulin injection: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Nursing Studies 60, 121–132 (2016).

5.         Tawil, J. R., Vitello, E. C., Agostini-Walesch, G. M., Mitchell, J. C. & Kreisler, R. E. Needle sharpness is minimally affected by vaccine vial puncture. javma 1–7 (2025) doi:10.2460/javma.25.01.0025.

6.         Kline, D. & Kuhn, T. Needle Reuse and Tip Damage. Diabetes Care 27, 615–615 (2004).

7.         Leggat, P. A., Smith, D. R. & Speare, R. Exposure rate of needlestick and sharps injuries among Australian veterinarians. J Occup Med Toxicol 4, 25 (2009).

8.         Weese, J. S. & Faires, M. A survey of needle handling practices and needlestick injuries in veterinary technicians. 50, 1278–1282 (2009).

9.         Fowler, H. N., Holzbauer, S. M., Smith, K. E. & Scheftel, J. M. Survey of occupational hazards in Minnesota veterinary practices in 2012. javma 248, 207–218 (2016).

10.       Kern-Allely, C. M. et al. Waste not want not: piloting a clinical waste audit at a United States university veterinary teaching hospital. 261, 584–591.

Leave a comment