Ketika praktik, saya berapa kali menjumpai pasien anak anjing atau kucing yang tadinya sehat dan aktif, kemudian tiba-tiba lemah dan seperti hewan pingsan. Tentu ada banyak kemungkinan penyebabnya, termasuk penyakit infeksius (utamanya parvovirus), kelainan kongenital, dan lainnya. Ada satu penyebab yang sebenarnya sederhana, tetapi sering terjadi, yaitu hipoglikemia atau gula darah rendah. Kelainan ini yang akan saya bahas dalam artikel ini.

Glukosa adalah salah satu komponen terpenting bagi tubuh manusia maupun hewan. Fungsi utamanya adalah sumber energi. Dalam kondisi kekurangan gula darah, kebanyakan organ dapat menggunakan zat lain, seperti asam lemak, sebagai sumber energi. Namun, beberapa organ hanya dapat menggunakan glukosa (dan badan keton pada kondisi memaksa), termasuk ginjal dan organ terpenting bagi kehidupan, otak. Organ-organ ini paling terdampak pada kondisi gula darah rendah.

Gula darah normal anjing atau kucing adalah 90 sampai 200 mg/dL. Seekor anjing atau kucing dikatakan mengalami hipoglikemia jika glukosa darahnya di bawah 60 mg/dL (3.3 mmol/L). Idealnya, pengukuran glukosa darah dilakukan dengan glukometer khusus anjing atau kucing, tetapi tidak semua klinik memiliki alat ini. Alternatifnya adalah menggunakan alat biokimia darah atau glukometer manusia. Penggunaan alat biokimia darah hewan memang lebih akurat karena memang untuk mengukur spesies anjing atau kucing. Namun, tidak semua klinik juga punya alat ini, dan penggunaannya lebih tidak praktis karena perlu waktu lama (10 sampai 30 menit) dan memerlukan volume darah yang cukup besar (0,5 sampai 1,0 ml) dibandingkan glukometer yang hanya memerluka setetes darah. Terlebih, pengambilan darah pada anak anjing atau kucing dalam jumlah besar lebih sulit dilakukan. Di sisi lain, glukometer manusia tentu tidak akan seakurat glukometer anjing atau kucing, tetapi hasilnya tidak berbeda jauh dan masih bisa digunakan dalam pengambilan keputusan 1,2. Pada beberapa merk glukometer manusia, hasil pengukuran glukosa cenderung lebih rendah dari sebenarnya 2,3. Belum ada penelitian yang membandingkan penggunaan glukometer manusia pada kucing, tapi sudah ada yang membuktikan kalau perbedaan input spesies anjing dan kucing tidak terlalu berdampak besar dan sepertinya tidak akan mengubah konsekuensi klinis 4.

Pengukuran gula darah pada bayi anjing (sumber: Referensi 7)

Hipoglikemia dapat terjadi pada hewan muda maupun tua karena berbagai penyebab: kekurangan nutrisi yang digunakan untuk produksi glukosa oleh tubuh, peningkatan penggunaan glukosa karena kebutuhan fisik atau penyakit, disfungsi hati sehingga tidak bisa memproduksi glukosa, serta kelainan hormon 5. Kali ini, saya ingin fokus pada kejadian gula darah rendah pada anakan hewan. Fisiologi mereka yang unik menyebabkan mereka lebih rentan dibandingkan hewan dewasa. 

Ketika lahir, banyak organ seekor hewan yang fungsinya belum sempurna selayaknya hewan dewasa. Hati adalah salah satunya. Organ ini baru mencapai fungsi dewasa di usia 4 sampai 5 bulan. Hati berperan penting untuk memproses zat kimia seperti obat-obatan serta untuk mempertahankan kadar gula darah dalam tubuh. Karena fungsinya belum sempurna, hati kadang tidak bisa memenuhi kebutuhan gula darah dan menyebabkan gula darah terlalu rendah. Selain itu, hati dan otot memiliki glikogen, zat simpanan karbohidrat di tubuh hewan. Simpanan glikogen pada hati dan otot pada anak hewan masih sedikit, sehingga sulit digunakan pada saat diperlukan. Massa lemak mereka juga masih sedikit untuk digunakan sebagai sumber energi alternatif. Hal ini lebih banyak terjadi pada anjing ras kecil, karena massa otot dan lemak mereka yang juga lebih kecil.

Anak hewan yang kekurangan gula darah akan menunjukkan tanda seperti vokalisasi, resah, lemah, refleks berkurang, denyut jantung lambat, kejang, bahkan hingga koma dan kematian jika tidak segera ditangani. Pun jika terlambat ditangani, bayi dapat mengalami gangguan penglihatan, gangguan kecerdasan, kejang, dan mikrosefalia pada manusia 6. Semua tanda ini terkait dengan gangguan pada otak. Otak adalah organ yang membutuhkan energi paling besar. Pada bayi hewan, proporsi massa otak dibandingkan tubuh lebih besar dibandingkan proporsi hewan dewasa, sehingga kebutuhan energihya lebih tinggi pula. Selain itu, luas permukaan tubuh bayi hewan yang lebih besar, kemampuan mempertahankan suhu tubuh yang belum sempurna, dan laju metabolisme yang tinggi juga membuat kebutuhan energi mereka lebih besar.

Kenapa sebagian bayi hewan dapat mengalami hipoglikemia? Ada banyak faktor risiko. Induk hewan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan bayinya. Induk hewan yang sehat dan mendapat nutrisi yang cukup akan melahirkan bayi yang dapat mempertahankan gula darah dengan baik. Gula darah induk juga berpengaruh karena gula darah bayi anjing diperkirakan berkisar 90 persen dari gula darah induknya 7.

Kelahiran melalui sectio caesarea (CS) lebih berisiko menyebabkan hipoglikemia karena induk tidak dapat segera menyusui bayinya. Selain itu, komplikasi lain seputar kelahiran, seperti tidak ada induk, bobot lahir yang rendah, bayi prematur, dan kelainan bawaan (seperti cleft palate) juga meningkatkan risiko hipoglikemia pada bayi. Umumnya, hal ini disebabkan refleks menyusui yang kurang baik, tidak mendapat susu yang cukup, atau tidak dapat bersaing dengan saudaranya.

Anak anjing yang mengalami hipoglikemia (sumber: dok pribadi)

Mengingat hipoglikemia dapat menyebabkan kematian atau kerusakan otak permanen, kondisi ini terhitung gawat darurat. Anak anjing atau kucing yang menunjukkan gejala kejang atau tiba-tiba lemah dan tidak responsif harus segera dibawa ke klinik hewan. Dokter hewan mungkin akan menjalankan beberapa tes untuk memastikan penyebab kondisi tersebut. Jika hewan terkonfirmasi mengalami hipoglikemia, pengobatannya sebenarnya sederhana: gula. Dokter hewan akan memasang kateter intravena ke pembuluh darah hewan (seperti manusia yang akan diinfus). Larutan glukosa akan disuntikkan melalui kateter tersebut sesuai dosis yang diperlukan. Jika pembuluh darah terlalu kecil, dokter hewan mungkin akan memasang kateter intraosseus ke tulang hewan. Larutan glukosa tidak bisa disuntikkan melalui bawah kulit atau otot karena akan merusak jaringan sekitarnya. Sebenarnya, gula dapat diserap melalui dinding mulut, tetapi penyerapannya sangat lambat sehingga tidak direkomendasikan sebagai satu-satunya rute jika hewan sudah bergejala hipoglikemia.

Pencegahan hipoglikemia pada bayi hewan dimulai dari kehamilan induknya. Penting untuk memastikan induk mendapat nutrisi yang cukup sehingga status glikemiknya saat melahirkan pun normal. Saat lahir, hewan sebaiknya diperiksa dan dipastikan sehat dan dapat menyusui. Ada sistem penilaian APGAR score yang digunakan pada manusia dan hewan. Hewan dengan APGAR score tinggi lebih cenderung sehat. Selama masa awal menyusui, pastikan bayi hewan mendapat susu yang cukup, terutama jika saudaranya banyak. Jika induk kurang bisa menyusui atau ada bayi yang kurang mendapat susu, bayi dapat diberi susu pengganti selain susu induknya. Pastikan juga bayi bertumbuh dan berkembang dengan baik, ditandai dengan peningkatan berat badan setiap harinya 8.

Cover image by freepic.diller on Freepik

Referensi

1.         Ismail‐Hamdi, S., Romdane, M. N. & Ben Romdhane, S. Comparison of a human portable blood glucose meter and automated chemistry analyser for measurement of blood glucose concentrations in healthy dogs. Veterinary Medicine & Sci 7, 2185–2190 (2021).

2.         Santos, M. A. B. D. et al. Evaluation of Three Human-Use Glucometers for Blood Glucose Measurement in Dogs. Veterinary Medicine International 2022, 1–9 (2022).

3.         Ioannou, A. F., Conrado, F. O., Chen, Y. & Mahony, O. Two human portable glucometers and a veterinary point-of-care glucometer correlate well with a reference laboratory chemistry analyzer for measurement of blood glucose concentrations in dogs. AJVR 1–7 (2025) doi:10.2460/ajvr.24.10.0317.

4.         Peña, L. W. et al. Impact on result interpretation of correct and incorrect selection of veterinary glucometer canine and feline settings. J VET Diagn Invest 35, 710–720 (2023).

5.         Idowu, O. & Heading, K. Hypoglycemia in dogs: Causes, management, and diagnosis. 59, 642–649 (2018).

6.         Straussman, S. & Levitsky, L. L. Neonatal hypoglycemia: Current Opinion in Endocrinology, Diabetes and Obesity 17, 20–24 (2010).

7.         Fuchs, K. da M. et al. Hypoglycaemia management with a hypercaloric supplementation in neonatal puppies delivered by caesarean section. Reproduction in Domestic Animals 58, 1345–1351 (2023).

8.         Fuchs, K. D. M. et al. Neonatal hypoglycemia in dogs—pathophysiology, risk factors, diagnosis and treatment. Front. Vet. Sci. 11, 1345933 (2024).

Leave a Reply