Parvovirus masih menjadi momok menakutkan bagi anjing dan kucing (penyebab panleukopenia di kucing termasuk golongan parvovirus juga) di Indonesia karena tingkat kematiannya yang tinggi. Pengobatan infeksi parvovirus biasanya berupa terapi simptomatis berdasarkan gejala yang muncul karena belum ada antivirus yang mujarab. Terapinya biasa mencakup terapi cairan atau infus, antimuntah, antibiotik, mungkin beberapa suplemen, dan terapi nutrisi, yang juga pernah saya bahas. Selain itu, ada satu jenis obat yang kontroversial: filgrastim atau granulocyte colony stimulating factor (G-CSF) atau Neupogen.
Saya tidak suka, tidak pernah menggunakan, dan belum berniat menggunakan filgrastim dalam kasus parvo yang saya tangani. Pertama, manfaatnya dalam kasus parvo tidak didukung bukti ilmiah. Ini yang akan saya bahas dalam artikel ini. Kedua, harganya cukup mahal: sekitar 700 ribu rupiah per vial berisi 300 mikrogram. Memang harga tersebut masih wajar saja buat saya seandainya obat ini memang berguna, tapi tanpa bukti yang cukup, harga tersebut berarti hanya untuk obat coba-coba, yang menurut saya kurang worth it.
Parvovirus suka menyerang sel-sel yang sedang aktif membelah dan memperbanyak diri. Sel yang paling terdampak adalah sel-sel di usus halus serta sumsum tulang, tempat produksi sel darah merah, sel darah putih, dan platelet. Karena itu, infeksi parvovirus sering ditandai diare dan penurunan sel darah putih golongan neutrofil atau granulosit. Kenapa neutrofil? Karena usia mereka di peredaran darah paling pendek, hanya 1 sampai 2 hari, bahkan hitungan jam, berbeda dengan sel darah merah yang bisa bertahan sampai 120 hari atau platelet yang bisa bertahan 10 hari. Neutrofil adalah pemeran penting dalam sistem pertahanan tubuh. Ketiadaan neutrofil membuka lebar pintu infeksi bakteri dan virus lain bagi anjing atau kucing yang terinfeksi parvovirus. Ini yang menjadikan parvovirus sangat berbahaya.

Sesuai namanya, filgrastim atau G-CSF adalah senyawa sitokin yang fungsinya mengatur dan merangsang produksi sel darah putih golongan granulosit, termasuk neutrofil. Oleh karena itu, tidak susah membayangkan mengapa orang memberikan filgrastim kepada anjing atau kucing parvo yang neutrofilnya rendah. Namun, beberapa penelitian sudah pernah dilakukan dan tidak mendukung manfaat G-CSF dalam kasus parvo di kucing maupun anjing, atau jika ada, kualitas buktinya rendah karena masalah metodologi. Perlu diketahui juga bahwa banyak penelitian yang membahas penggunaan G-CSF pada neutrofil rendah oleh sebab lain, termasuk kemoterapi (yang sebenarnya juga kontroversial (Vail 2009)). Saya hanya akan membahas penggunaan G-CSF pada kasus parvo.
Ada dua publikasi terkait penggunaan G-CSF pada kucing dengan infeksi panleukopenia: satu berupa case series (Dascalu et al. 2024) dan satu lagi terasa seperti surat yang menceritakan pengalaman mengurus kucing panleukopenia (Rice 2017). Case series oleh Dascalu et al. (2024) melaporkan 24 kucing dengan panleukopenia yang semuanya diobati dengan G-CSF. Semua kucing dilaporkan mengalami kenaikan sel darah putih neutrofil, limfosit, monosit, dan eosinophil dalam 5 hari dan 100 persen kucing berhasil hidup melewati infeksi mereka. Namun, sulit mengambil kesimpulan dari laporan ini karena tidak ada grup kontrol yang tidak diberi G-CSF sebagai pembanding. Lagipula, semua kucing yang tidak mati karena panleukopenia pasti akan mengalami kenaikan sel darah putih seiring waktu dan kesembuhan, dengan atau tanpa filgrastim. Selain itu, tidak ada kriteria inklusi dan eksklusi yang menjelaskan mengapa 24 kucing tersebut terpilih untuk dapat G-CSF. Saya tidak bisa banyak komentar mengenai tulisan Rice (2017). Dia melaporkan bahwa dalam pengalamannya, 90 persen kucing panleukopenia yang diberi G-CSF berhasil hidup, sementara hanya 33 persen yang tidak diberi G-CSF yang hidup. Metodologinya tidak begitu dijelaskan sehingga tidak bisa saya kritisi, selain gaya penulisannya yang tidak terasa seperti artikel ilmiah dan tidak jauh berbeda dari tulisan blog saya ini. Mengingat pentingnya metodologi dalam menilai kualitas suatu tulisan ilmiah, saya juga tidak bisa mengambil kesimpulan.
Sebenarnya ada meta-analisis pengenai penggunaan G-CSF pada kucing, tapi keterbatasan jumlah dan heterogenitas penelitian yang ada membatasi kesimpulan yang bisa diambil (Xiong et al. 2026).
Ada lebih banyak penelitian tentang G-CSF pada anjing parvo. Penelitian tertua yang bisa saya temukan adalah Rewerts et al. (1998). Penelitian randomized controlled trial ini menggunakan 23 anak anjing dengan parvo; 11 di antaranya terpilih secara acak untuk diberi G-CSF dengan dosis 5 mcg/kg setiap hari sampai neutrofilnya meningkat. Tidak ada perbedaan signifikan dalam lama rawat inap, laju kenaikan neutrofil sampai 1500 sel/mikroliter, dan tingkat kematian. Tidak ada anjing yang mati dalam penelitian ini. Dalam penelitian lain (Mischke et al. 2001), 33 anjing dialokasikan secara acak ke dalam dua kelompok. Dua puluh dua anjing diberi G-CSF sebanyak 10 mcg/kg selama 5 hari, sementara 21 sisanya diberi plasebo. Tidak ada perbedaan dalam tingkat kematian, jumlah leukosit, dan jumlah neutrofil.

Duffy et al. (2010) meneliti perubahan parameter darah anjing parvo dengan neutropenia setelah pemberian G-CSF 5 mcg/kg per hari. Penelitian ini membandingkan 2 kelompok tanpa pengacakan. Sel darah putih dan neutrofil pada kedua kelompok naik seiring waktu, tapi lebih cepat pada kelompok yang diberi G-CSF. Durasi rawat inap juga lebih singkat pada kelompok tersebut (4,96 hari vs 7,32 hari). Namun, kematian justru lebih banyak terjadi pada kelompok tersebut. Sebanyak 4 dari 28 anjing mati, sementara di kelompok yang tidak diberi G-CSF, 34 dari 34 anjing selamat. Ini mendandakan bahwa laju kenaikan sel darah putih, khususnya neutrofil, tidak bisa jadi indikator kemungkinan hidup seekor anjing parvo.
Armenise et al. (2019) melakukan penelitian yang awalnya berupa single-arm (tidak ada kontrol seperti Dascalu et al. (2024)), tetapi kemudian menambahkan kelompok kontrol. Jadi, di awal, 31 anjing yang digunakan dalam penelitian semuanya diberi G-CSF, baru kemudian ada 31 anjing yang tidak diberi G-CSF. Dalam penelitian ini, berbeda dengan penelitian sebelumnya, anjing yang diberi G-CSF semuanya selamat, sementara hanya 83,8% anjing yang tidak diberi G-CSF yang selamat. Namun, menariknya, walaupun sel darah putih monosit dan limfosit lebih tinggi kenaikannya dibanding kontrol, perbedaan ini tidak tampak pada neutrofil kedua kelompok. Hal ini membingungkan karena G-CSF seharusnya bekerja pada neutrofil. Karena itu, sulit mengetahui dan menyimpulkan bahwa rendahnya kematian pada kelompok yang diberi G-CSF adalah karena obat tersebut.
Penelitian paling baru (Gülersoy et al. 2023) menggunakan dosis G-CSF lebih tinggi, yaitu 10 mcg/kg per hari selama 3 hari. Mereka menggunakan 40 anjing yang dibagi ke dalam 2 kelompok. Dalam penelitian ini, granulosit atau neutrofil lebih tinggi pada kelompok yang diberi G-CSF, tetapi tidak ada perbedaan signifikan pada tingkat kematian dan lama rawat inap kedua kelompok. Dari 5 penelitian ini, tidak ada pola hasil yang mendukung manfaat G-CSF sebagai terapi kasus parvo pada anjing.
Kurangnya manfaat G-CSF dalam kasus parvo mungkin bisa dijelaskan secara patofisiologis. Sederhananya, G-CSF bekerja dengan menyuruh sel progenitor atau nenek moyang neutrofil untuk bertambah banyak dan berdiferensiasi menjadi neutrofil yang matang. Dalam kasus infeksi biasa, tubuh akan memproduksi G-CSF sendiri dan memicu emergency granulopoiesis (Mehta and Corey 2021). Sebab itu, dalam kebanyakan infeksi, angka sel darah putih, termasuk neutrofil, akan tinggi. Dalam kasus parvo, virus justru menyerang stok pembentuk neutrofil di sumsum tulang sampai (hampir) habis (Potgieter et al. 1981; Breuer et al. 1998)sehingga G-CSF juga bingung harus menyuruh siapa (Mischke et al. 2001). Tanpa pemberian G-CSF dari luar, neutrofil tetap akan restok jika anjing atau kucing berhasil melewati masa kritisnya, hanya butuh waktu.
Pemberian G-CSF juga bukan tanpa risiko. Kebanyakan G-CSF yang digunakan adalah rekombinan dari G-CSF manusia, bukan spesifik G-CSF kucing. Bagaimanapun, kucing dan anjing dapat menganggap G-CSF sebagai benda asing yang harus diserang, sehingga mereka akan membentuk antibodi terhadap G-CSF, sebagaimana sudah pernah dilaporkan (Arai et al. 2000; Xiong et al. 2026). Antibodi ini akan menetralkan G-CSF sehingga tubuh tidak akan lagi merespon dengan memproduksi neutrofil. Bahayanya, ketidakpekaan terhadap G-CSF ini bukan cuma terhadap G-CSF luar atau G-CSF manusia, tapi juga G-CSF dari tubuh sendiri. Akibatnya, bisa terjadi kekurangan neutrofil kronis. Memang sudah ada pengembangan G-CSF spesifik kucing dan anjing, tapi penggunaannya belum meluas, apa lagi di Indonesia. Selain itu, beberapa laporan juga menyebutkan kejadian kekurangan trombosit dan turunnya sel darah merah setelah pemberian G-CSF, walau mekanismenya belum diketahui (Kim et al. 2022; Dascalu et al. 2024).
Referensi
Arai M, Darmen J, Lewis A, Yamamoto JK (2000) The use of human hematopoietic growth factors (rhGM-CSF and rhEPO) as a supportive therapy for FIV-infected cats. Vet Immunol Immunopathol 77(1–2):71–92. https://doi.org/10.1016/S0165-2427(00)00232-4
Armenise A, Trerotoli P, Cirone F, De Nitto A, De Sario C, Bertazzolo W, Pratelli A, Decaro N (2019) Use of recombinant canine granulocyte-colony stimulating factor to increase leukocyte count in dogs naturally infected by canine parvovirus. Vet Microbiol 231:177–182. https://doi.org/10.1016/j.vetmic.2019.03.015
Breuer W, Stahr K, Majzoub M, Hermanns W (1998) Bone-marrow changes in infectious diseases and lymphohaemopoietic neoplasias in dogs and cats—a retrospective study. J Comp Pathol 119(1):57–66. https://doi.org/10.1016/S0021-9975(98)80071-6
Dascalu MA, Daraban Bocaneti F, Soreanu O, Tutu P, Cozma A, Morosan S, Tanase O (2024) Filgrastim Efficiency in Cats Naturally Infected with Feline Panleukopenia Virus. Animals 14(24):3582. https://doi.org/10.3390/ani14243582
Duffy A, Dow S, Ogilvie G, Rao S, Hackett T (2010) Hematologic improvement in dogs with parvovirus infection treated with recombinant canine granulocyte‐colony stimulating factor. J Vet Pharmacol Ther 33(4):352–356. https://doi.org/10.1111/j.1365-2885.2009.01153.x
Gülersoy E, Balıkçi C, Esma K, Şahan A, Günal I (2023) The use of hG-CSF in canine parvoviral enteritis: Its effect of clinical and laboratory variables. Veterinaria 72(1):71–87. https://doi.org/10.51607/22331360.2023.72.1.71
Kim K, An J, Lee J, Park S, Chae HK, Song W, Youn H (2022) Transient thrombocytopenia in a cat following G‐CSF treatment. Vet Med Sci 8(2):421–424. https://doi.org/10.1002/vms3.706
Mehta HM, Corey SJ (2021) G-CSF, the guardian of granulopoiesis. Semin Immunol 54:101515. https://doi.org/10.1016/j.smim.2021.101515
Mischke R, Barth T, Wohlsein P, Rohn K, Nolte I (2001) Effect of recombinant human granulocyte colony-stimulating factor (rh G – CSF) on leukocyte count and survival rate of dogs with parvoviral enteritis. Res Vet Sci 70(3):221–225. https://doi.org/10.1053/rvsc.2001.0464
Phillips K, Arai M, Tanabe T, Raskin R, Volz M, Uhl EW, Yamamoto JK (2005) FIV-infected cats respond to short-term rHuG-CSF treatment which results in anti-G-CSF neutralizing antibody production that inactivates drug activity. Vet Immunol Immunopathol 108(3–4):357–371. https://doi.org/10.1016/j.vetimm.2005.06.010
Potgieter LND, Jones JB, Patton CS, Webb-Martin TA (1981) Experimental Parvovirus Infection in Dogs. Can J Comp Med (45):212–216
Rewerts J, McCawn D, Cohn L, Wagner-Mann C, Harrington D (1998) Recombinant human granulocyte colony-stimulating factor for treatment of puppies with neutropenia secondary to canine parvovirus infection. JAVM 213(7):991–2
Rice JK (2017) Successful Treatment of Feline Panleukopenia: A Guideline For Rescuers and Veterinarians, Part I. J Vet Sci Med Diagn 06(02). https://doi.org/10.4172/2325-9590.1000223
Vail DM (2009) Supporting the Veterinary Cancer Patient on Chemotherapy: Neutropenia and Gastrointestinal Toxicity. Top Companion Anim Med 24(3):122–129. https://doi.org/10.1053/j.tcam.2009.02.004
Xiong L, Zhang Z, Liu X, Lai Q, Zheng F, Peng X, Luo W, Wang Y (2026) G-CSF in feline medicine: From molecular mechanisms to clinical applications. Vet Immunol Immunopathol 291:111045. https://doi.org/10.1016/j.vetimm.2025.111045Zinkl JG, Cain G, Jain NC, Sousa LM (1992) Haematological response of dogs to canine recombinant granulocyte colony stimulating factor (rcG-CSF). Comp Haematol Int 2(3):151–156. https://doi.org/10.1007/BF004
