Disclaimer: Isi post ini atau post manapun di blog ini tidak menggantikan konsultasi dokter hewan langsung. Jika ada kebingungan, silakan rujuk dokter hewan yang menangani hewan peliharaan Anda.

Apa itu SDMA?

Pada tahun 2015, IDEXX merilis tes symmetric dimethylarginine (SDMA) di laboratorium referensi (lab mereka sendiri). Mereka kemudian merilis SDMA untuk penggunaan pada mesin di klinik pada tahun 2018. SDMA digadang-gadang sebagai alat ukur yang lebih baik untuk mendeteksi gagal ginjal pada anjing dan kucing.

SDMA adalah salah satu hasil metabolisme protein yang dihasilkan dari semua sel berinti (artinya, semua sel di tubuh kecuali sel darah merah). Pada kondisi normal, SDMA akan difilter oleh ginjal dan dibuang melalui urin. Ketika ada masalah ginjal, ginjal akan kesulitan memfilter SDMA sehingga SDMA akan menumpuk di darah dan menjadi tinggi.

Bagaimana gagal ginjal kronis didiagnosis sebelum ada SDMA?

Sebenarnya, gold standard untuk diagnosis gagal ginjal kronis adalah glomerular filtration rate (GFR), tetapi, metode ini jarang digunakan karena ribet dan lama, serta memerlukan pengambilan darah berkali-kali. Pada praktiknya, metode yang sering digunakan adalah pengecekan kreatinin pada serum darah (dengan uji-uji lain seperti urinalisis, tekanan darah, dan lainnya yang bisa dilihat di gambar di bawah). Namun, kreatinin memiliki beberapa kelemahan. Kreatinin berasal dari otot. Masalahnya, banyak anjing dan kucing tua dan sakit kronis mengalami penyusutan massa otot sehingga kreatinin yang dihasilkan juga lebih sedikit. Artinya, pada hewan-hewan ini, kreatinin bisa lebih rendah dari seharusnya, dan menghasilkan diagnosis negatif palsu: hewan dengan gagal ginjal dianggap tidak gagal ginjal. Selain itu, kreatinin kurang sensitif. Kreatinin baru akan naik di atas rentang referensi (normal) jika kerusakan ginjal mencapai 75% dari massa ginjal. Muncullah pertanyaan: apakah kita bisa mendeteksi kerusakan ginjal lebih awal?

IRIS pocket guide dari https://www.iris-kidney.com

Apakah betul SDMA lebih akurat dari kreatinin?

SDMA disebut-sebut bisa mendeteksi kerusakan ginjal jauh lebih awal dari kreatinin, ketika kerusakan baru 25 sampai 40 persen. Sudah ada cukup banyak penelitian mengenai SDMA di anjing, kucing, bahkan spesies lain seperti kelinci, panda, dan harimau. Setidaknya, ada dua review terpublikasi yang berusaha mengevaluasi penelitian-penelitian ini. Sayangnya, keduanya tidak mendukung klaim bahwa SDMA lebih baik dari kreatinin.

Review pertama diterbitkan di Veterinary Evidence, suatu jurnal terbitan RCVS yang berfokus pada penerapan evidence-based veterinary medicine dengan menulis ringkasan bukti untuk berbagai pertanyaan klinis. Review tersebut menanyakan: apakah SDMA superior dibandingkan kreatinin dalam mendiagnosis gagal ginjal kronis pada kucing? Tiga dari empat studi yang mereka gunakan tidak menemukan perbedaan korelasi antara kreatinin dan GFR atau SDMA dan GFR. Tidak ada konklusi yang jelas mengenai perbedaan sensitivitas dan spesifisitas kreatinin dan SDMA. Karena itu, menurut penulisnya, studi yang ada tidak menunjukkan bahwa SDMA lebih baik dari kreatinin.

Review kedua dibuat dengan metodologi yang lebih ketat: systematic review. Terdapat 5 studi pada kucing dan 6 studi pada anjing yang memenuhi kriteria untuk diulas. Mereka menemukan bahwa 9 dari 11 studi punya risiko bias yang tinggi; kebanyakan karena disponsori atau dilakukan oleh IDEXX sebagai perusahaan yang “menjual” SDMA. Hasil yang positif pada penelitian dengan risiko bias yang tinggi perlu disikapi dengan hati-hati. Tentu IDEXX tidak salah. Justru sangat baik bahwa mereka berusaha meneliti dan membuktikan kegunaan SDMA melalui publikasi ilmiah. Namun, artinya, kita perlu lebih banyak penelitian mengenai SDMA yang independen dan bebas dari konflik kepentingan.

Masalah lain yang mereka temukan adalah inkonsistensi dalam hasil penelitian. Pada kucing, sensitivitas (kemampuan SDMA mendeteksi kucing yang betulan kena gagal ginjal sebagai positif) bervariasi 15% sampai 100%. Spesifisitasnya (kemampuan SDMA mendeteksi kucing yang tidak gagal ginjal sebagai negatif) lebih baik (75 – 98%). Pada anjing, sensitivitas SDMA berkisar 36% sampai 90% sementara spesifisitasnya berkisar 52% sampai 90%. Karena hasil yang terlalu bervariasi, penulisnya tidak bisa menggabungkan semua data untuk melakukan meta-analisis. Satu hal yang mengkhawatirkan adalah penelitian di anjing dengan risiko bias terendah menemukan spesifisitas SDMA hanya 52%. Artinya, hampir setengah dari anjing sehat akan memiliki SDMA yang tinggi dan dianggap gagal ginjal (positif palsu). Ini membuat risiko overdiagnosis dan pengobatan yang tidak perlu jadi meningkat.

Isu lain dengan SDMA, yang sering digaungkan ahli patologi klinis Randolph Baral, adalah dispersinya yang besar, 40% di kucing. Di anjing saya belum tahu. Apa itu dispersi? Ketika kita mengukur SDMA menggunakan mesin, kita akan mendapatkan satu angka, misalnya 10 𝜇mol/L. Dispersi 40% berarti angka SDMA yang sesungguhnya bisa berada 40% di atas atau di bawah angka tersebut (6 – 14 𝜇mol/L). Jika batas atas kreatinin normal adalah 14 𝜇mol/L, hasil SDMA 14 𝜇mol/L sesungguhnya bisa berada antara 8 sampai 20 𝜇mol/L. Artinya, kalau kita mau yakin bahwa SDMA benar-benar di atas 14 𝜇mol/L, SDMA yang didapatkan paling kurang adalah 20 𝜇mol/L. Di bawah itu, kita masih menebak-nebak.

Karena SDMA dihasilkan oleh semua sel berinti, secara logika, SDMA juga bisa naik pada kondisi jika sel di tubuh bertambah banyak, misalnya kanker. Apakah ini terbukti? Sudah ada penelitian yang menemukan bahwa SDMA lebih tinggi pada anjing dan kucing yang menderita limfoma (kanker kelenjar getah bening), tapi tidak dengan jenis kanker lain. Penyebabnya belum diketahui, tapi beberapa kemungkinan meliputi infiltrasi sel kanker ke ginjal sehingga merusak fungsi ginjal, bertambahnya produksi SDMA oleh sel, dan berkurangnya fungsi ginjal. Tentu, keadaan ini bisa membuat kesalahan diagnosis, dan SDMA tinggi selalu tidak berarti masalah ginjal.

Kapan tes SDMA disarankan?

Tentu, SDMA punya tempat sebagai alat screening. Saya pernah menggunakan mesin Catalyst One IDEXX di klinik. Terkadang, kreatinin sulit terbaca karena interferensi zat lain, seperti kreatin, dan sebagainya sehingga harus dilakukan pengenceran dan pembacaan ulang. SDMA bisa digunakan ketika kreatinin sulit dibaca oleh mesin.

Seperti penjelasan saya di awal, salah satu kekurangan kreatinin adalah sangat dipengaruhi massa otot. Sebaliknya, SDMA tidak dipengaruhi massa otot, sehingga ketika kreatinin tidak bisa dipercaya, SDMA bisa digunakan.

Di sisi lain, SDMA belum disarankan digunakan sebagai alat monitoring perkembangan penyakit gagal ginjal. Jadi, lebih baik tetap gunakan alat ukur yang lebih pasti seperti kreatinin dalam monitoring.

Saya juga tidak setuju jika seekor hewan sudah terdiagnosis gagal ginjal dengan parameter lain masih dites SDMA juga. Kalau seekor kucing punya kreatinin, urea, dan fosfor tinggi, berat jenis urin rendah, tes SDMA lagi tidak akan menambah value apa-apa dan hanya membuang uang. Uang untuk tes SDMA lebih baik dipakai untuk pengobatan gagal ginjal atau tes lain yang lebih bermanfaat.

By Kalumet – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=7920154

Mendiagnosis gagal ginjal kronis

Saya rasa perlu menambahkan sedikit disclaimer bahwa diagnosis gagal ginjal tidak berhenti di SDMA dan kreatinin. Berbagai parameter juga digunakan dalam penegakkan diagnosis dan monitoring, meliputi urea darah, fosfor dan kalsium serum, berat jenis urin, rasio protein kreatinin urin, tekanan darah, hasil pencitraan. Parameter-parameter ini bukan cuma untuk menyatakan seekor kucing atau anjing kena gagal ginjal, tapi juga menentukan terapi yang diperlukan.

Deteksi dini gagal ginjal kronis terbaik bukan soal berapa nilai SDMA atau kreatinin saat itu semata, tapi memerlukan pengecekan berkala. Walaupun ada “rentang normal” kreatinin dan SDMA kucing dan anjing yang tertera di laporan pemeriksaan, nilai “normal” tiap individu sesungguhnya bisa berbeda-beda. Dengan pemeriksaan berkala, kita bisa mengetahui “normal”nya tiap kucing dan mengambil tindakan ketika nilai tersebut naik secara signifikan, walau kata mesin masih dalam batas normal. Nilai kenaikan ini pun berbeda-beda. Untuk kreatinin, nilainya sekitar 30% dari baseline, sedangkan untuk SDMA, 60%.

Referensi

Baral, R. (2021). The SDMA biomarker: What does it tell us about feline kidney? Feline Focus7(9), 247–252.

Coyne, M. J., Drake, C., McCrann, D. J., & Kincaid, D. (2022). The association between symmetric dimethylarginine concentrations and various neoplasms in dogs and cats. Veterinary and Comparative Oncology20(4), 846–853. https://doi.org/10.1111/vco.12845

Hardy, L. (2023). Is symmetric dimethylarginine superior to creatinine for assessing glomerular filtration rate for cats with kidney disease? Veterinary Evidence8(4). https://doi.org/10.18849/ve.v8i4.661

Sargent, H. J., Elliott, J., & Jepson, R. E. (2021). The new age of renal biomarkers: Does SDMA solve all of our problems? Journal of Small Animal Practice62(2), 71–81. https://doi.org/10.1111/jsap.13236

Scobie, C., Dean, R., Stavisky, J., & Plüddemann, A. (2026). Diagnostic accuracy of symmetric dimethylarginine for chronic kidney disease in cats and dogs: A systematic review. Veterinary Record, vetr.70216. https://doi.org/10.1002/vetr.70216

Leave a Reply